Search

Alasan Mengapa Warisan Sir Alex Ferguson Telah Habis di Man United

BABEBOLA.COM-Jika mendengar nama Alex Ferguson, maka yang akan terpikirkan dari kita adalah klub Manchester United. Sir Alex Ferguson sangat identik dengan Man United karena 26 tahun kariernya yang gemilang bersama Tim Setan Merah.

Tak hanya sekedar melatih, ia juga membentuk filosofi klub, hingga mencetak pemain-pemain muda yang mampu menjadi pondasi Man United. Man United menjadi tim yang selalu ditakuti dan diperhitungkan di ranah Inggris maupun Eropa.

Sir Alex Ferguson bersama Manchester United ketika menjuarai Liga Champions musim 2007-2008 Copyright: talksport,com

Sir Alex Ferguson bersama Manchester United ketika menjuarai Liga Primer Inggris musim 2012-2013

Bersama Man United ia merengkuh 13 gelar Premier League dan dua gelar Liga Champions. Man United tak pernah kehabisan pemain-pemain yang menjadi ikon klub, sebut saja Eric Cantona, Mark Hughes, Roy Keane, Ryan Giggs, David Beckham, Paul Scholes, Cristiano Ronaldo, dan tentu saja Wayne Rooney. Kesemua pemain ini menjadi simbol bagi klub Man United.

Banyak pula pemain-pemain di bawah naungan Ferguson menjadi pelatih. Sebut saja Gordon Strachan, Mark Hughes, Paul Ince, Roy Keane, Steve Bruce, Willie Miller, dan lain-lain.

Namun, setelah lima tahun dirinya pensiun, perubahan nyata terjadi di tubuh Man United. Sejumlah warisan yang telah lama dibangunnya secara berkelanjutan dan bertahap perlahan mulai menghilang. Mungkin, hanya filosofi untuk memberikan kesempatan pemain muda saja yang masih nyata terlihat.

Berikut ini INDOSPORT paparkan lima alasan warisan Sir Alec Ferguson telah mati di Man United.

1. Sepakbola Instan

Paul Pogba merana pasca menelan kekalahan dari Sevilla.

Di era sepakbola modern ini, hasil instan menjadi segalanya. Tiap tim rela menggelontorkan dana berjuta-juta euro demi mendatangkan bintang matang. Jika semusim saja bintang itu tak main apik, maka tim siap mendepak dan menggantinya dengan yang baru.

Man United sepertinya mulai terbawa arus tersebut. Belakangan, mereka berani membeli pemain-pemain berharga fantastis, sebut saja Angel Di Maria, Memphis Depay, hingga yang terbaru Paul Pogba dan Alexis Sanchez. Bahkan, Pogba menjadi pemain termahal kedua di dunia. Namun, pemain-pemain yang dibeli ini gagal memberikan idenitas bagi klub. Mereka tampil inkonsisten dan gagal memenuhi ekspektasi.

Keinginan untuk mengorbitkan dan mendidik bakat-bakat muda seperti menghilang. Bandingkan dengan era Ferguson di mana megabintang yang dimilikinya adalah hasil pengamatan jeli dan didikan sejak dini. Nama-nama seperti Beckham, Paul Scholes, Cristiano Ronaldo, dan Rooney menjadi contoh terbaik.

*2. Permainan yang Kurang Agresif *

Pelatih Man United, Jose Mourinho meninggalkan lapangan setelah pertandingan usai

Man United yang sekarang terkesan hanya mementingkan hasil akhir. Baik ketika diasuh Van Gaal dan Mourinho, keduanya seakan hanya mementingkan skor akhir. Padahal, di era Ferguson dulu, Man United dikenal sebagai tim dengan filosofi menyerang. Man United di bawah Ferguson bermain “kejam” dan agresif.

Masih ingatkah Anda dengan kemenangan 8-2 MU dari Arsenal dan kemenangan 7-1 dari AS Roma? Daya serang MU di liga domestik maupun Liga Champions benar-benar membuat tim lawan was-was. Namun, hal itu tak lagi dominan saat ini. Mourinho sudah sangat senang ketika tim hanya menang 2-1 atau 1-0 melawan tim-tim gurem.

Bahkan, di banyak pertandingan, Man United tak segan-segan menerapkan strategi bertahan ala “parkir bus”. Contoh teranyar adalah di laga melawan Sevilla di Liga Champions musim ini. Man United di bawah Mourinho kerap “main aman”.

3. Strategi Transfer Pemain

Jose Mourinho dan Ed Woodward.

Baru juga bergabung dengan Man United di tahun 2016 dengan banderol super mahal, Paul Pogba sudah digosipkan hengkang dari Old Trafford. Faktor Mourinho dianggap berperan atas keingin Pogba untuk hengkang.

Belum lagi saat transfer Angel Di Maria dulu. Dibeli mahal-mahal dan diharapkan sebagai penggant Ronaldo, nyatanya cuma main semusim. Petinggi Man United, Edward Gareth “Ed” Woodward, tak cukup cakap dalam berstrategi di bursa transfer.

Woodward mungkin mampu mendatangkan bintang-bintang seperti Di Maria, Pogba, hingga Sanchez. Namun, pemain yang didatangkan mahal-nahal ini seperti bukan jawaban dari kebutuhan Man United untuk memenangi gelar juara. Strategi transfer ini berbeda ketika era Ferguson dan David Gill di mana mereka berkomunikasi dengan baik untuk mendatangkan pemain-pemain yang benar-benar dibutuhkan klub dan pastinya memiliki prospek jangka panjang.

*4. Ruang Ganti *

Sir Alex Ferguson (kiri) saat berpamitan di laga terakhirnya bersama Manchester United.

Man United telah ditinggalkan generasi emasnya. Saat ini, Man United sedang membangun kembali era yang baru. Namun, stabilitas itu masih belum terlihat hingga saat ini. Pemain silih berganti masuk dan keluar dari Old Trafford dalam beberapa musim terakhir. Parahnya, banyak dari pemain yang hengkang memiliki kenangan yang tidak mengenakan.

Bintang-bintang seperti Di Maria, Welbeck, dan Van Persie hengkang karena kurang harmois dengan Van Gaal. Di musim ini, Pogba dikabarkan kurang harmonis dengan Mourinho dan dikabarkan hengkang menyusul Henrikh Mkhitaryan.

Man United kehilangan sosok “ayah” yang ada di diri Alex Ferguson, yaitu sesuatu yang tak dimiliki oleh Van Gaal serta Jose Mourinho. Patut diingat, Man United belum memenangi Liga Inggris lagi semenjak pensiunnya Ferguson.

 

Sumber:

Written by 

Related posts

Leave a Comment