Search

Bagaimana Mencegah Anak Menggunakan Kata Kasar?

Anak berkata kasar, apa yang harus kita lakukan?(diego_cervo)

Hampir semua ayah yang memiliki anak berusia di atas dua tahun pernah dikagetkan oleh kata-kata kasar yang keluar dari mulut anaknya, baik dalam konteks bercanda maupun benar-benar menyumpah.

Saya sendiri pernah terkejut saat anak saya tiba-tiba berkomentar dengan kata “What the f**k was that?” Saya jelas tak pernah menggunakan kata-kata itu, karena saya memang jarang berbahasa Inggris. Setelah saya tanya dari mana ia mendapatkan kata tersebut, jawabannya adalah youtube. “Teman-teman saya juga mengatakan itu kok,” ujarnya membela diri.

Seorang rekan juga punya pengalaman serupa. Saat itu secara tidak sadar anaknya belajar dari dirinya. Suatu ketika ia mengumpat pengemudi lain yang belok tanpa memberi tanda. Beberapa hari kemudian, ketika anaknya melihat mobil yang ugal-ugalan, kata yang sama itu keluar dari mulut si kecil.

Kebanyakan ayah mungkin tertawa mendengar si kecil mengumpat. Tapi ternyata itu bukan reaksi yang tepat. Sikap itu malah akan membuatnya merasa tersanjung. Justru kita harus mengajarinya menggunakan bahasa yang lebih santun, meski hal itu tidak mudah mengingat kita sendiri sering keceplosan memaki di depan anak.

Nah, agar anak tidak terbiasa mengumpat atau menggunakan kata-kata kasar, penting bagi para ayah dan orang lain di dalam keluarga untuk menetapkan aturan berbahasa dan mengikutinya. Berikut beberapa tips untuk menghilangkan kata-kata kasar dari mulut anak-anak kita, sekaligus bagaimana bersikap bila anak kita mengucapkan kata-kata tersebut.
Buat aturan dan ikuti

 

Kita tentu tidak bisa membatasi informasi yang diterima anak-anak kita dalam dunia serba terbuka saat ini. Andai mereka kita larang bergaul dengan anak yang bandel pun, anak kita bisa mendapatkan kata-kata kasar dari internet, televisi, dan lainnya.

Maka yang perlu dilakukan adalah menentukan kata-kata apa saja yang boleh digunakan di rumah,. Peraturan itu berlaku bagi siapa saja, termasuk orangtua. Sederhananya, kalau kita tidak ingin anak kita memaki dengan kata tertentu, maka kita juga tidak menggunakan kata itu.

Hal itu mungkin saja sulit, karena beberapa ayah biasanya terbiasa menggunakan kata-kata makian dalam komunikasi dengan teman-temannya, meski dalam suasana bercanda. Namun bila Anda sudah menetapkan kata tersebut tidak boleh diucapkan anak Anda, maka jangan bawa pulang kata-kata tersebut ke rumah.
Bantu anak Anda menemukan cara lebih baik untuk mengungkapkan perasaanya

 

Anak menutup mulutnya karena kata kasar(kdshutterman)
Kata-kata makian yang keluar dari anak seringkali muncul saat mereka marah, frustasi, atau sebal. Untuk menghindarinya, ajarkanlah anak untuk menahan diri saat marah, misalnya dengan mengambil nafas dalam atau menghitung sampai 10. Kita juga bisa mengajarkan anak untuk menuliskan perasaannya dalam bentuk kalimat. Misalnya “Saya marah karena..”
Cari kata pengganti yang lebih sopan

Bagian ini kita sebenarnya sudah banyak belajar. Orang-orang Jawa yang menganggap kata “bajingan” sebagai kata kasar, sering mengubahnya menjadi bajigur (yang adalah nama minuman), atau kata “anjing” menjadi anjrit. Nah hal yang sama bisa kita terapkan untuk anak kita.

Jadi bila anak Anda mengucapkan kata kasar tertentu, koreksilah dan ingatkan untuk menggunakan kata lain yang tidak berkonotasi kasar atau menghina.

Jangan bereaksi berlebih

Mendengar anak kita mengucapkan kata kasar di depan umum atau di depan saudara-saudara kita memang akan membuat kita malu. Tapi disarankan agar kita tidak bereaksi berlebihan dengan menyentil mulutnya atau meneriaki misalnya.

Anda cukup menegurnya, dan menanyakan apakah dia tahu arti kata itu. Lalu jelaskan bahwa kata itu memiliki makna yang tidak baik, dan dapat menyakiti hati orang yang dipanggil dengan sebutan tersebut. Tegaskan lagi soal kesepakatan untuk tidak menggunakan kata-kata tertentu yang tidak baik.

Dengan menetapkan aturan dan konsisten mematuhinya, kita akan bisa menghilangkan kata-kata kasar dari mulut buah hati kita, sekaligus juga dari mulut kita.

 

sumber : kompas.com

Written by 

Related posts

Leave a Comment