Search

Black Night yang Pernah Dialami Barcelona di Liga Champions

BABEBOLA.COM – Tersingkirnya Barcelona dari Liga Champions musim 2017/18 usai kalah 0-3 dari AS Roma di leg kedua perempat final Liga Champions, Rabu (11/4/2018) dini hari tadi, membuka kembali deretan kenangan buruk Barcelona di turnamen paling bergengsi di Eropa ini.

Memang, nama FC Barcelona hampir selalu menjadi favorit juara di Liga Champions. Dan, dalam 10 tahun terakhir, Barca pernah tiga kali juara, yakni di tahun 2009, 2011 dan 2015.

Namun, Barcelona juga memiliki sederet malam kelam (Black night) di Liga Champions. Malam kelam yang tentu saja tidak menyenangkan untuk dikenang. Berikut empat malam kelam Barcelona di Liga Champions, yang berdasarkan waktu Eropa memang digelar pada Selasa/Rabu malam.

1. Kalah telak dari AC Milan di final Liga Champions 1994

www.fourfourtwo.com

Setelah kalah dua kali di final pada 1961 dan 1986, Barcelona akhirnya meraih trofi pertama Liga Champions pada tahun 1992 ketika mengalahkan tim Italia, Sampdoria 1-0.

Dua tahun kemudian, Barcelona yang kala itu dilatih master sepak bola menyerang, Johan Cruyff, kembali tampil di final. Kali ini, Barcelona kembali bertemu tim Italia, AC Milan.

Dikutip dari Uefa.com, Barca yang kala itu dijuluki dream team dengan pemain-pemain  top seperti Hristo Stoichkov, Romario, Ronald Koeman dan Pep Guardiola, lebih diunggulkan dari Milan yang baru kehilangan masa keemasannya seiring tiadanya trio Belanda, Frank Rijkaard, Marco van Basten, dan Ruud Gullit.

Yang terjadi, Milan yang dilatih Fabio Capello malah menang telak 4-0 di final, yang digelar di Athena lewat gol-gol dari Danielle Massaro (Dua gol), Dejan Savicevic dan Marcel Desailly. seperti dikutip dari Marca.com.

Kekalahan itu menjadi kekalahan paling telak di final Liga Champions. Dan itu menjadi kenangan terburuk Barcelona di Liga Champions.

2. Takluk dari ‘musuh bebuyutan’ di semifinal Liga Champions 2002

www.si.com

Barcelona pernah bertemu musuh bebuyutannya, Real Madrid di Liga Champions. Ya, el clasico pernah terjadi di Liga Champions. Tepatnya di babak semifinal pada musim 2001/02. Namun, kala itu memang bukanlah periode terbaik Barcelona. Justru Madrid yang tengah membangun reputasi sebagai Los Galacticos alias tim dari galaksi (Lain).

Dari dua pertandingan, Barcelona kalah 0-2 di Camp Nou lewat gol Steve McManaman dan Zinedine Zidane pada leg pertama, dan hanya bermain 1-1 di Bernabeu. Sehingga kalah agregat 1-3. Di tahun itu, Real Madrid akhirnya meraih gealr kesembilannya.

3. Disingkirkan Chelsea di rumah sendiri dalam semifinal paling dramatis

www.fcbarcelona.com

Setahun setelah juara di musim 2010/11, Barcelona berpeluang untuk kembali tampil di final di musim 2011/12. Namun, impian tembus ke final beruntun itu pupus ketika mereka disingkirkan Chelsea di Camp Nou, dalam sebuah pertandingan semifinal yang dramatis.

Kalah 0-1 di London pada leg pertama, Barcelona diprediksi bisa bangkit di leg kedua di rumah sendiri. Dan prediksi itu mendekati nyata ketika Barca unggul dua gol lewat gol Sergio Busquets di menit ke-35, dan Iniesta menit ke-43. Terlebih, Chelsea bermain dengan 10 pemain setelah John Terry dikartu merah di menit ke-37.

Namun Chelsea lantas memperkecil skor jadi 1-2 lewat gol Ramires menit ke-45. Di awal babak kedua, Barca mendapat penalti, tetapi Messi gagal mengubahnya menjadi gol. Dan, di akhir laga, Fernando Torres menyamakan skor jadi 2-2, sekaligus membawa Chelsea ke final dengan kemenangan agregat 3-2, seperti dikutip dari Theguardian.com.

Itu satu malam kelabu Barcelona yang paling diingat fans sepak bola.

4. Kalah telak 0-7 dari Bayern Munchen di era keemasan

www.goal.com

Barcelona pernah meraih masa keemasan ketika dilatih Pep Guardiola. Mereka jadi juara di musim 2009, 2011. Ketika Guardiola pergi di akhir musim 2011/12, Barca masih menjadi yang terbaik di La Liga Spanyol ketika menjadi juara di musim 2012/13 lewat penerus Guardiola, Tito Vilanova.

Namun, sukses di Liga Spanyol, tidak menular di Liga Champions. Justru, Barcelona meraih hasil paling memalukan dalam di musim 2012/13. Langkah Barcelona terhenti di semifinal setelah kalah telak dari Bayern Munchen, dengan agregat 0-7 dalam dua pertandingan. Bayangkan, bagaimana bisa barca kalah 7-0 di dua laga semifinal?

Tak berdaya dan kalah 0-4 di leg pertama semifinal di Munchen, Barcelona sebenarnya dijagokan bisa melakukan come back di leg kedua di kandang sendiri. Yang terjadi, Barca justru kembali kalah telak 0-3. Sehingga agregat menjadi 0-7, seperti dikutip dari Bbc.com. Di tahun itu, Bayern Munchen akhirnya jadi juara.

5. Diprediksi lolos mudah ke semifinal, malah jadi korban remontada AS Roma

eurosport.com

Sepak bola itu terkadang misterius. Sulit ditebak hasil akhirnya. Sisi kemisteriusan sepak bola tersaji ketika Barcelona kalah 0-3 dari AS Roma di Olimpico pada leg kedua perempat final Liga Champions 2017/18, Rabu (11/4/2018) dini hari tadi.

Berbekal keunggulan 4-1 di Camp Nou pada leg pertama 4 April lalu, Barcelona sangat diunggulkan bisa lolos ke semifinal. Di leg kedua, Roma mungkin bisa menang dan mencetak beberapa gol. Tetapi, sulit membayangkan gawang Roma bisa aman dari gempuran Lionel Messi, Luis Suarez dan Andres Iniesta.

Yang terjadi, Barca menjadi korban remontada alias pembalasan Roma. AS Roma bisa menang dengan skor mencolok 3-0, lewat gol-gol Edin Dzeko di menit ke-6, penalti Daniele De Rossi di menit ke-58, serta gol penentu Kostas Manolas di menit ke-82, seperti dikutip dari Football-italia.net.

Memang, agregat sama kuat 4-4. Namun, Barcelona kalah oleh aturan gol away karena Roma bisa mencetak gol di kandang lawan.

“Ini sungguh hasil gila dan luar biasa. Saya tidak bisa menjelaskan dengan kata-kata. Pada akhirnya, kami bisa melakukannya  ketika banyak orangnya menganggap kami akan gagal,” ujar Edin Dzeko.

 

Sumber:

Written by 

Related posts

Leave a Comment