Search

Budaya Kota Nagoya Jepang yang Jarang Orang Ketahui

Nagoya – Budaya Jepang apa yang traveler tahu atau mungkin rasakan setelah berkunjung ke sana? Apakah tentang kedisiplinan, kebersihan, atau kesopanan?

detikTravel berbincang dengan pelajar dari Indonesia dan sudah belajar di sana selama 4 bulan. Ia bernama Anita Aulia Putri.

“Saya di Nagoya, Jepang dalam rangka sekolah. Pelajar internasional sekaligus kerja part time di minimarket sebagai kasir dan juga restoran,” kata Neta, sapaan akrabnya, Rabu (5/12/2018).

 

“Kerja part time itu seminggu 28 jam bagi siswa atau pelajar sederajat. Itu aturan dari visa pelajar,” imbuh dia.

Cerita dia, selama di Nagoya ia amat jarang melihat orang Indonesia plesir di sana. Pun seorang pelajar, mereka lebih memilih belajar di ibu kota, Tokyo.

Budaya Kota Nagoya Jepang yang Jarang Orang Ketahui
(Anita Aulia Putri/Istimewa)

“Kalau jam sekolahnya itu dari jam 09.00 sampai 12.30. Setelah itu bekerja dari jam 04.00-22.00 dengan penghasilan sebulan 150 ribu Yen,” ungkap Neta.

Membahas budaya Kota Nagoya, Neta merasa senang hidup di sana. Meski ada pengalaman yang tak enak juga dialaminya.

“Seru aja sih. Karena aku jadi kasir jadi kadang pengunjung yang tak terduga. Kemarin tiba-tiba dimarahi orang-orang. Katanya mungkin mereka habis minum di malam sebelumnya. Jadi ada orang sana juga yang memang tidak suka sama orang asing,” ucap dia.
Selain itu, Kota Nagoya adalah terkenal dengan jumlah kecelakaan tertinggi. Ketiga, kedisiplinan soal kebersihan di sana tak seperti di kabar yang beredar secara luas. 

“Nagoya, pertama di antar kota Jepang lainnya adalah yang paling sering kecelakaan. Orang-orang paling ngebut bawa mobil, itu kata guruku. Kedua, lingkungannya nggak terlalu sebersih yang aku tahu. Ada tahi anjing di jalan dan nggak dibersihkan pemiliknya tapi sudah hilang keesokan harinya,” jelas Neta.

(Anita Aulia Putri/Istimewa)
(Anita Aulia Putri/Istimewa)

Dari sisi pekerja, yang dianggapnya tak akan mengurusi kerja orang lain pun tak sepenuhnya benar. Saat Neta kerja, si bosnya pun ingin tahu dan membuka obrolan ketika sepi pelanggan.

“Berarti mereka ini tidak kaku dan seperti robot saat bekerja,” kata dia.

Terakhir, anak muda di Jepang cenderung tertutup sama orang asing. Kalau tidak diajak mengobrol ya akan diam saja.

“Kalau orang yang sudah dewasa di sana lebih mau membuka dulu untuk berkomunikasi,” ucap dia.

Kini Jepang sedang memasuki peralihan musim gugur ke musim dingin. Tak hanya belajar, Neta pun memanfaatkan waktu luangnya untuk jalan-jalan dan Kota Osaka, Kyoto hingga Gunung Fuji sudah ada di daftarnya

 

Sumber

Written by 

Related posts

Leave a Comment