Search

Cerpen | Ibu Belum Pulang

Cerpen | Ibu Belum Pulang

BabeBola.net – Ibu belum pulang. Ayah bilang ibu pergi lumayan jauh. Dan aku sering bertanya pada ayah, apa ibu tidak rindu padaku? Ayah bilang semua ibu selalu rindu pada anaknya. Tapi ibu tidak pernah pulang. Dan mata ayah tiba-tiba berair.

Ayah dan ibu selalu keluar dari rumah utnuk waktu lama, memang enak jadi orang dewasa, bisa keluar dan pulang kapan saja yang mereka mau. Kalau aku pergi dari rumah, perjalananku akan terhenti di depan teras rumah Nimas, sementara ayah dan ibu bisa berhenti dimana saja, kata ayah. Enak ya jadi orang dewasa. Terakhir kali, sebelum pergi, ibu mengemasi pakaiannya yang banyak, jadi orang dewasa kata ayah memang harus memiliki pakaian yang banyak, karena orang dewasa akan pergi dengan waktu yang lebih panjang.

Sebelum pergi, ibu memelukku, menciumku, dan mengelus kepalaku. Aku suka dicium, dipeluk, atau dielus oleh ibu, tapi aku tidak suka jika dicium terlalu lama, itu akan membuat pipiku terasa panas. Aku juga tak suka dipeluk terlalu erat, karena akan membuat tubuhku kesakitan. Dan jika kepalaku dielus terlalu kencang, aku bakal pusing setelahnya. Aku tak suka semua sakit itu.

Setelah mencium, memeluk, dan mengelus kepalaku, ibu mencium tangan dan kening ayah. Terkadang hal itu sering juga terjadi jika ayah akan pergi jauh, ayah akan melakukan hal serupa padaku dan ibu. Ibu bilang semua rasa ciuman, pelukan, dan elusan itu akan bertahan lama, hingga ayah atau ibu kembali pulang kerumah.

Enak ya jadi orang dewasa, bisa mengerti apa itu rasa. Sebelum ibu pergi, aku bertanya pada ibu. Apakah ia akan sering menelponku? Menceritakan tentang tempat-tempat jauh yang tak pernah aku ketahui, atau sekedar mengatakan bahwa ia rindu padaku? Ibu hanya tersenyum, ia bilang akan selalu mengirimiku surat, ditempatnya berhenti nanti tak ada pesawat telepon, hanya ada surat. Aku girang, karena ibu berjanji akan mengirimiku surat, namun aku juga tiba-tiba merasa sedih karena tak akan mendengarkan suaranya untuk waktu yang lama. Tapi aku tetap senang, karena ayah berjanji akan membacakan surat dari ibu untukku.

~

Entah kenapa sekarang semua orang tiba-tiba suka datang kerumahku dan mengajakku jalan-jalan. Entah kenapa semua orang jadi begitu baik padaku. Aku bertanya pada ayah, mengapa bibi, paman, dan juga nenek sering datang kerumah kami? Ayah hanya diam, kadang ia hanya menunduk, bibirnya gemetar sebentar, lalu memelukku sambil berkata terbata. “Karena mereka sayang padamu”

Aku bertanya mengapa surat-surat ibu tak pernah lagi datang, kenapa ayah tidak begitu peduli pada surat-surat ibu, kenapa sekarang jadi sering menonton televisi, dan selalu mendengarkan berita tenggelamnya kapal yang menuju pulau Jawa, kenapa ayah sekarang jadi sering keluar rumah bersama paman, tidak pulang hingga larut malam. Ayah bilang, ibu sedang sibuk membantu orang-orang dilaut. Aku sedih karena ibu tak lagi rindu padaku. Aku ingin sekali menulis surat pada ibu, tapi aku tak tahu caranya menulis surat. Aku ingin sekali ibu membaca dan menjawab surat-suratku, sebagaimana ayah membaca dan membalas surat-surat ibu. Enak ya jadi orang dewasa, bisa menulis, bisa membaca, dan bisa membalas surat dari ibu.

Aku pergi menemui bibi, dan meminta agar ia menuliskan surat untuk ibu. Bibi hanya terdiam, tersenyum kecil dengan mata berkaca-kaca, lalu memeluk dengan erat dan menciumku. Aku benci dipeluk erat juga dicium terlalu lama. Aku juga sedih karena bibi tidak kunjung menuliskan surat untuk ibu, kata bibi ibu sedang tidak ingin diganggu. Jelas aku geram, kenapa ibu tiba-tiba tak ingin diganggu, apa ibu tidak kangen padaku? Aku pergi meninggalkan bibi dengan rasa jengkel, lalu menemui nenek yang selalu duduk termenung diatas kursi goyangnya.

Di depan nenek, aku meminta agar dituliskan sepucuk surat rindu untuk ibu. Nenek sama saja seperti bibi, hanya bisa diam, dengan mata berkaca-kaca, lalu memeluk dan menciumku dengan panas dan rasa remuk yang membekas dipipi dan tubuhku.

Akhirnya aku menemukan jalan keluarnya, seseorang yang bisa membuatkan sepucuk surat rindu untuk ibu, Mira. Mira tetangga kami, rumahnya berhadapan dengan rumah nenek, sekaligus bersebelahan dengan rumah kami. Mira dan aku sering bermain bersama, ia akan dengan senang menemaniku melakukan apa saja, mendandani boneka, memasak pasir dan tanah, kadang batu, atau sekedar menjadi guru dan murid, dan pasti ia akan mau membuatkanku surat untuk ibu.

Mira sudah sekolah, disekolah dasar dikampungku. Aku juga ingin sekolah, kata ibu tahun depan aku akan sekolah disekolah yang sama dengan Mira. Aku senang sekali, karena aku akan pergi kesekolah dan pulang kerumah bersama Mira, memakai baju, rok dan sepatu seperti yang dipakai Mira. Dan tentu waktu-waktu kami bermain akan semakin banyak, tidak seperti sekarang, sebagaimana ia sering tiada dirumahnya hingga siang hari.

Mira juga sering diajak ibu kepantai bersamaku, jika sedang libur, ibu akan meminta Mira menemaniku membangun istana pasir atau sekedar bermain air. Aku tidak tahu apa itu libur, yang aku tahu jika Mira bersamaku maka saat itu adalah libur. Saat-saat bersama Mira, ia akan bercerita tentang sekolah dan pelajaran yang baru saja diajarkan oleh guru-guru disana. Ia pernah bilang bahwa ia sudah menghafal penjumlahan dengan dua angka tanpa mesin hitung, ia juga pernah mengajariku menghitung angka, mengeja nama, dan menghafal nama, nama ayah, nama ibu, dan namaku sendiri. Mira juga pernah mengajariku menulis nama, nama ayah, nama ibu, dan namaku sendiri. Tapi ia tuidak mengajariku menulis surat. Katanya nanti setelah sekolah aku akan diajari menulis surat oleh guru-guru disana. Enak ya kalau sudah sekolah, bisa membuat surat.

~

Di depan Mira, aku minta dibuatkan surat untuk ibu. Ia kebingungan, diam sebentar, lalu bertanya padaku. “Apa kamu tahu dimana ibumu sekarang?” Aku menggelengkan kepala, ia tersenyum sambil melanjutkan kata-katanya “Kata guru kamu harus punya alamat tujuan” Aku tidak tahu apa itu alamat, apa itu tujuan, yang aku ingat, ayah bilang kalau ibu pergi jauh, bekerja keras membantu orang-orang dilaut. Mungkin ibu pergi kelaut, tidak, ibu pasti tinggal dilaut.

Mira kemudian mengambil selembar kertas dan memintaku memikirkan apa yang ingin ia tuliskan. Aku kemudian memintanya bertanya pada ibu, apa ibu sedang baik-baik saja? apa ibu terlalu sibuk sampai lupa mengirim surat lagi? apa ibu tidak lagi rindu padaku? kapan ibu pulang?

Mira tersenyum, melipat kertas yang penuh dengan pertanyaan, dan memintaku menandatanganinya. Aku tidak tahu apa itu tanda tangan. Aku menggelengkan kepala. Kata Mira surat tanpa tanda tangan tidak akan sampai pada tujuannya, kalaupun sampai, surat itu akan dianggap palsu. Aku sedih. Enak ya kalau sudah sekolah, bisa membuat surat dan tanda tangan.

“Aku tahu!”

Mira kemudian mengambil botol tinta milik ayahnya, mencelupkan jari telunjukku ke dalam botol, lalu menempelkannya pada surat yang terlipat di depan kami. Aku bingung, Mira hanya tersenyum.

“Selain tanda tangan, cap jempol juga bisa membuat surat sampai dan dipercaya oleh pembacanya” kata Mira sumringah. Aku juga ikut senang.

Setelah surat itu selesai, aku dan Mira lalu mengantarnya ke sungai, membungkusnya dengan kantong plastik, lalu mengalirkannya. Kata Mira, sungai akan membawa suratku ke laut. Disana ibu akan menerima dan membaca suratku. Aku bertanya bagaimana jika ibu ingin membalas suratku? Hujan!, kata Mira. Hujan akan membawa surat balasan dari ibu untukku. Sejak kapan hujan turun dengan sepucuk surat? kata Mira, hujan berasal dari laut, airnya menguap karena panas matahari dan naik ke daratan menjadi hujan, dan bisa menjadi surat. Aku senang sekali, menunggu hujan membawa sepucuk surat dari ibu.

~

Sesampainya dirumah, bersama ayah, sebelum tidur aku menceritakan semua pengalamanku bersama Mira siang tadi. Ayah seperti biasa, diam, bibirnya bergetar, matanya berkaca, lalu memeluk dan menciumku seperti bibi dan nenek. Sakit dan panas, tapi aku tidak perduli lagi, aku senang karena ibu akan mengirimi surat balasan melalui hujan.

 

Sumber : Kompas

Written by 

Related posts

Leave a Comment