Search

Film Indonesia Kembali Berjaya di Negeri Sendiri

BABEBOLA– Perkembangan industri film nasional sepertinya terus bergairah dan makin berjaya di negeri sendiri. Lihat saja, layar bioskop selalu saja didominasi film-film buatan anak negeri.

Ketika film baru rilis, penonton terutama kalangan anak-anak muda memadati sinema, bahkan rela antre untuk menjadi yang pertama kali nonton.Dampaknya sungguh signifikan. Seperti dilansir laman filmindonesia, jumlah penonton film nasional terus meroket. Pada 2016, jumlah penonton film Indonesia mencapai 34,5 juta penonton.

Angka ini meningkat lebih dari 100% dari jumlah penonton pada 2015, yakni 16,2juta penonton. Hingga Selasa (5/12/2017), jumlah penonton sudah mencapai 34 juta atau berpotensi mengalahkan capaian jumlah penonton pada tahun lalu. Hal ini menunjukkan, kepercayaan para penikmat film kepada film Indonesia telah pulih dan bahkan semakin ber tambah, setelah sempat mati suri beberapa dekade.

Puncaknya, film Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss Part 1 yang dirilis sejak 2 September 2016, berhasil meraup 6.858.616 orang penonton dengan pendapatan kotor mencapai Rp205 miliar dan ditasbihkan menjadi film Indonesia terlaris sepanjang masa.

Belum genap seminggu tayang di bioskop, film fenomenal besutan Falcon Pictures yang dibintangi Tora Sudiro, Abimana Aryasatya, daVino G Bastian, ini sudah meraih jumlah penonton lebih dari 2,3 juta. Besarnya jumlah orang yang menyaksikan film ini telah menggeser posisi Laskar Pelangi yang selama delapan tahun berturut-turut, tepatnya sejak 2008, menduduki posisi atas.

Sekuelnya, Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss Part 2, yang dilempar kepasaran sejak lima bulan lalu, juga mampu berbuat banyak, meski hanya menyedot 4.083.190 penonton. Film ini dikalahkan oleh film horor yang disutradarai Joko Anwar, Pengabdi Setan, yang mampu “menghantui” sekitar 4.206.103 orang penonton. Menanggapi kesuksesan ini, aktris Cinta Laura merasa senang industri film nasional telah semakin menunjukkan eksistensinya dan terus meningkat dari segi kualitas, terutama cerita, kemampuan akting, sinematografi, hingga pilihan musik nya.

Gadis cantik yang tengah meniti karier film di Hollywood, Amerika Serikat, ini mengaku film buatan sineas Indonesia bisa dibilang hampir menyamai dengan pusat film dunia tersebut. “Dibanding sepuluh tahun lalu misalnya, perkembangannya pesat sekali. Memang tidak bisa disamakan dengan Hollywood karena beda kualitas, tapi sudah semakin baik,” tuturnya ketika ditemui dikawasan Epicentrum Kuningan, Jakarta, Kamis(7/12/2017).

Cinta sendiri dikabarkan tengah menjalani syuting film drama musikal Hollywood bertajuk Crazy for the Boyz yang bakal dirilis pada 2018.

Sebelumnya, dia juga pernah membintangi film After the Dark, The Ninth Passenger, dan Goodnight . Menurut Cinta, satu hal yang masih jadi kendala dalam proses pembuatan film di Tanah Air adalah masalah kedisiplinan dan upaya menghargai waktu. Semua kru dan pemain yang terlibat, lanjut dia, perlu memahami bahwa kunci dalam mewujudkan sebuah produk film berkualitas adalah selalu disiplin, kerja keras, dan tepat waktu.

“Kalau di sini mungkin masih kurang disiplin. Misalnya calling jam enam pagi, baru pulang jam empat pagi. Kalau di sana, calling jam enam pagi, jam enam sore sudah selesai semua prosesnya,” kata perempuan blasteran Indonesia-Jerman berusia 24 tahun tersebut. Perbedaan lainnya, menurut Cinta, genre film yang banyak dibuat dan lebih disukai penonton Indonesia dan Hollywood juga tak sama.

Pencinta film Indonesia lebih banyak suka film dengan tema drama dan kisah cinta romantis yang menguras air mata, sementara di Hollywood ceritanya lebih beragam mulai dari film scifi, thriller, hingga action yang memerlukan efek dan teknologi canggih.

“Sebenarnya dua-duanya bagus. Cuma memang selera penontonnya berbeda sehingga produser mengikuti selera pasar,” terangnya.

Ditempat yang sama, aktor Fedi Nuril mengungkapkan, kesuksesan film nasional tak bisa lepas dari kekuatan akting para pemainnya, profesionalitas sutradara, kru film, serta pendu kung lainnya. Kegiatan observasi, kepandaian bermain imajinasi, serta pendalaman karakter dan peran amat penting dilakukan oleh seorang aktris saat disuguhkan satu scenario film layar lebar.

Dalam film Ayat-Ayat Cinta2 yang bakal segera dirilis misalnya, dia mesti berperan menjadi Fahri yang berprofesi sebagai seorang dosen yang mengajar dikampus internasional di Edinburg, Inggris. Di sisi lain, dia memiliki masalah percintaan yang pelik. Pria kelahiran 1 Juli 1982 ini juga mesti melakukan adegan kehilangan istri yang amat dicintainya.

“Itu sebuah hal yang sulit, karena istri saya selalu disamping saya. Saya juga harus percaya diri menjadi dosen di hadapan murid dari luar negeri. Saya juga orangnya susah saat adegan menangis. Perlu ada pendalaman karakter sebelumnya,” tandasnya. Fedi mengaku bangga saat ini film-film Indonesia bisa menarik minat dan kepercayaan penonton serta tidak kalah mutunya dengan film karya sineas luar negeri.

Hal ini tentu saja, menurut dia, semakin memotivasi para produser serta sutradara di Tanah Air untuk terus memproduksi film serta meningkatkan kualitas karyanya. “Perfilman Indonesia sekarang sedang hebat-hebat nya menarik penonton hingga mencapai jutaan jumlahnya.

Semoga hal ini bisa membuat kepercayaan penonton pada film Indonesia semakin bertambah,” ujar suami dari Calysta Vanny Widyasasti ini dan ayah dari Hasan Fadilah Nuril. Fedi berharap, film Indonesia yang beredar bukan hanya dapat menghibur penonton, tetapi juga menyelipkan pesan moral yang bisa diambil untuk mengarungi kehidupan kelak.

Sementara itu, aktor senior Ray Sahetapy mengemukakan, membludaknya penonton film Indonesia dikarenakan masyarakat sudah bosan dicekoki film Barat yang memiliki konsep terlalu fantasi dan tak menyajikan sebuah hal baru. “Film Barat sudah merasuki masyarakat sejak lama. Perlu ada sesuatu yang baru untuk menciptakan cerita-cerita buat penonton untuk merasakan dan berpikir. Dan film-film nasional sekarang berupaya menyajikan hal tersebut,” ujarnya kepada KORAN SINDO ketika ditemui di kawasan Senayan, Jakarta, Rabu (6/12/2017).

Menurut Ray, Indonesia berada ditengah garis khatulistiwa yang merupakan gudangnya cerita, ruang, gagasan, serta kisah menarik yang bisa diolah menjadi skenario film. Jadi, hingga beberapa tahun ke depan, produser dan sineas Indonesia sepertinya tidak bakal kekurangan nilai dan gagasan yang dapat dieksplorasi saat pembuatan film nasional.

“Asal tidak nyontek oranlain, itu yang penting. Memang sejarah film berasal dari barat, tetapi lama-lama orang akan mencari sesuatu yang sesuai dengan diri nya, sesuai bumi ini. Dan Nusantara berada diposisi itu,” kata peraih Pemeran Pembantu Pria Film Terpuji Festival Film Bandung (FFB) 2015 lewat film 2014 : Siapa Di Atas Presiden ini.

Ray memulai karier di layar lebar sejak 1980, berarti sudah 37 tahun dia mendedikasikan hidup untuk film Indonesia, mengaku sudah tak memiliki peran impian untuk dilakoninya dalam film layar lebar.

Dia menuturkan, segala film dan peran apa pun, tapi dihayati dengan sepenuh hati dan jiwa pasti bakal menampilkan sebuah karya terbaik. “Saya sudah mendapatkan filosofi dari kehidupan itu sendiri, tidak hanya dari peran dalam sebuah film. Semua peran apabila dioladengan bagus dan indah, pasti akan menampilkan sebuah keunikan tersendiri. Karena tujuannya adalah bagaimana orang menonton film itu betah dan mengambil sesuatu yang berguna bagi hidupnya,” tuturnya. (Rendra Hanggara) 

 

 

 

Sumber:

Written by 

Related posts

Leave a Comment