Search

Ibu Menyusui Tetap Merokok, Amankah bagi Bayi? Apa Risikonya?

BABEBOLA Hal pertama yang harus diinget adalah, ketidakmampuan untuk menghentikan kebiasaan merokok tidak lantas membuat seorang ibu harus berhenti menyusui.

Menyusui memberikan banyak kekebalan, yang membantu bayimelawan penyakit, dan bahkan dapat membantu menangkal beberapa efek dari asap rokok.

Misalnya, pemberian ASI telah terbukti mengurangi efek negatif dari asap rokok di paru-paru bayi.

Sudah pasti, lebih baik jika ibu menyusui tidak merokok.

Tapi, jika pun seorang ibu tidak bisa berhenti atau mengurangi rokok, maka lebih baik merokok dan tetap menyusui, daripada merokok dan memberi susu formula.

Semakin banyak rokok yang dihisap, akan mendatangkan risiko kesehatan yang semakin besar bagi ibu dan juga bayinya.

Apa yang terjadi pada bayi saat terpapar asap rokok?

Bayi dan anak-anak yang terpapar asap rokok memiliki risiko terkena pneumonia, asma, infeksi telinga, bronkitis, infeksi sinus, dan iritasi mata, yang jauh lebih tinggi.

Lalu, kolik lebih sering terjadi pada bayi yang ibu atau ayahnya merokok, termasuk jika ibu menyusui dan merokok.

Kolik adalah kata yang digunakan untuk menggambarkan kondisi ketika bayi terus menangis tanpa sebab dan sulit dikendalikan.

Kolik biasanya terjadi pada bayi sehat yang berusia di bawah lima bulan, di mana ia bisa menangis hingga lebih dari tiga jam, selama kurang lebih tiga hari berturut-turut.

Nahbayi dengan orangtua yang merokok memiliki kemungkinan lebih rewel.

Sementara, ibu yang merokok merokok kemungkinan kurang mampu mengatasi bayi kolik, karena kadar hormon prolaktin yang lebih rendah.

Prolaktin adalah salah satu hormon yang bermanfaat dalam produksi ASI pada ibu menyusui.

Selain itu, ibu yang memiliki kebiasaan merokok bisa menambah potensi gejala seperti mual, muntah, kram perut, dan diare pada bayi.

Riset lain menyebutkan, bayi dengan ibu dan juga ayah yang merokok, memiliki potensi tujuh kali lebih besar untuk meninggal karena sindrom kematian bayi mendadak (SIDS).

Lalu, anak-anak dari orangtua merokok tercatat memiliki rekor kunjungan ke dokter, 2-3 lebih banyak dibanding anak dengan orangtua tak merokok.

Biasanya keluhan yang umum muncul adalah infeksi pernafasan, atau penyakit terkait alergi.

Selain itu, anak-anak yang terpapar asap pasif di rumah memiliki kadar HDL rendah. HDL adalah kolesterol baik yang membantu melindungi manusia dari penyakit arteri koroner.

Sebuah studi menemukan, anak yang tumbuh di rumah di mana kedua orangtuanya merokok, dapat melipatgandakan risiko anak terkena kanker paru-paru di kemudian hari.

Apa pengaruh rokok terhadap ASI?

Sebuah riset menunjukkan, ibu dengan kebiasaan merokok cenderung menyapih anaknya lebih awal.

Selain itu, ada pula laporan yang menyebutkan, ibu merokok memiliki tingkat produktivitas AS yang terus menurun.

Kemudian, seperti yang telah disebutkan di atas, tingkat prolaktin pada ibu yang merokok menjadi lebih rendah. Padahal, hormon ini diperlukan untuk produksi ASI.

Studi yang dilakukan di tahun 2004, menunjukkan bahwa ibu merokok yang tinggal di daerah dengan kekurangan yodium ringan sampai sedang memiliki lebih sedikit yodium dalam ASI.

Padahal yodium diperlukan untuk fungsi tiroid bayi. Sehingga, penyusun penelitian itu, menyarankan agar ibu menyusui yang merokok mempertimbangkan untuk menggunakan suplemen yodium.

Meski merokok kerap dikaitkan dengan masalah turunnya produktivitas ASI, namun hal itu bisa juga terjadi karena pengelolaan laktasi yang buruk, daripada penyebab fisiologis.

Dokter Lisa Amir, dalam sebuah ulasan yang diterbitkan pada tahun 2001, menyimpulkan, meskipun ada bukti konsisten wanita yang merokok menyusui bayinya untuk durasi yang lebih pendek, tapi bukti mekanisme fisiologisnya tidak kuat.

Cara meminimalisasi risiko rokok terhadap bayi

Seperti dikemukakan di atas, kondisi “tak bisa meninggalkan rokok” tidak pernah menjadi alasan kuat bagi ibu untuk memilih tak memberi ASI kepada buah hatinya.

Tentu, yang paling ideal bagi ibu yang menyusui adalah berhenti merokok. Demi kesehatan si anak tentunya.

Tapi, kalau pun hal itu tetap sulit untuk dilakukan, pilihan untuk mencoba mengurangi banyaknya rokok yang dikonsumsi menjadi langkah yang baik.

Semakin sedikit merokok, maka hal itu pun akan memperkecil kemungkinan munculnya risiko.

Sebaliknya, risiko akan terus membesar bila si ibu bisa merokok hingga 20 batang per hari.

Saran lainnya adalah, jangan merokok di saat akan dan sedang menyusui. Ini akan menghambat penyerapan zat berbahaya bagi bayi Anda.

Merokoklah segera setelah rampung memberikan ASI. Buatlah rentang waktu selebar mungkin antara merokok dan menyusui.

Dibutuhkan 95 menit setelah merokok untuk menghilangkan separuh dari pengaruh nikotin yang melakat pada tubuh di ibu.

Lalu, yang tak kalah penting adalah, hindari merokok di ruangan yang sama dengan bayi.

Lebih baik lagi jika si ibu bisa merokok di luar ruang, jauh dari bayi dan anak-anak lain. Selain itu, jangan pula biarkan orang lain merokok di dekat bayi.

 

 

sumber:

Written by 

Related posts

Leave a Comment