JAKARTA – Sebelumnya diberitakan anggota komplotan ‘Tenda Orange’ spesialis jambret dikirim ke alam baka. Salah satu pentolan komplotan ini ditembak mati lantaran berontak. Sedangkan suami-istri, dua anggota kawanannya, menyerah saat ditangkap di markasnya di Teluk Gong, Jakarta Utara, Selasa (4/7) malam.

Dor! Pistol polisi menyalak. Sebutir peluru melesat bersarang di dada Mad Supei alias Chepi, 33. Salah satu pentolan kelompok ‘Tenda Orange’, itu terjengkang tak berkutik.

Melihat salah satu dedengkot kelompoknya mati didor, AS, 35, dan istrinya DN, 31, merinding ketakutan. Suami istri ini pun tiarap sambil kedua tangannya melipat kepalanya sebagai tanda menyerah.

Jasad Mad Supie dibawa ke RS Polri Kramat Jati, Jakarta Timur, sedangkan suami istri ini diseret ke Mapolres Jakarta Barat.

Sebelum dijebloskan ke kamar tahanan, DN terus menerus menangis, sambil kedua tangannya menyeka air mata. “Aku bilang apa, Mas? Ketangkap juga kan? Aku nyesel, dipaksa ikut jambret. Begini akhirnya…” isak DN kepada suaminya yang berjalan di sampingnya.

Ocehan istrinya disertai isak tangis membuat AS trenyuh. Air mata dari bandit sadis ini tak kuasa jatuh membasahi kedua pipinya. Sambil memeluk istrinya dia meminta maaf.

“Aku minta maaf. Aku tak menyaka begini akhinrya,” hibur AS.

Istrinya kembali nyerocos,” Aku bilang apa! Sudah, Mas, sudah, tobat.”

HASIL KEJAHATAN

Kasat Reskrim Polres Jakarta Barat, AKBP Edy Suranta Sitepu mengatakan, suami istri ini, anggota kelompok jambret ‘Tenda Orange’ yang ditangkap bersama Mad Supei lantaran terbukti menjabret di Jalan Prof DR Latumenten, Jelambar Baru, Grogol Petamburan, Jakarta Barat.

BACA JUGA : PAK PRABOWO SUDAH DI-ENDORSE PARTAI

“Suaminya yang menjambret, sementara istrinya hanya menikmati hasil kejahatanya AS. Suaminya bersama Mad Supie juga menjabret di kawasan Tamansari, Jakarta Barat, pada Minggu (1/7),” paparnya.

Penangkapan AS dan DN berawal dari diringkusnya Mad Supei alias Cepi di Teluk Gong, Pejagalan. “Mad Supei ditembak mati karena melawan saat mau diagkap,” katanya.

Menuru Sitepu, barang hasil menjambret diserahkan AS ke istrinya setelah dijual ke penadah. “Uang itu digunakan DN buat membiayai hidup kedua anak mereka. Selama ini AS tak pernah bekerja selain menjambret,” ujarnya.

Terakhir AS bersama Mad Suipei menjambret Lina, 34, pedagang Lumipia pada Sabtu malam kemarin. “Kala itu korban naik Bajaj dipepet lalu tasnya dirampas dibawa kabur,” bebernya.

Melalui penyelidikan, kata Sitepu, pihaknya akhirnya membekuk kedua penjambret tersebut.

Sumber: