Search

Karius Mengakui Bahwa ia Memang Salah

BABEBOLA.COM – Laga final Liga Champions 2017/2018 antara Liverpool dan Real Madrid yang digelar pada Minggu (27/5/2018), ditutup dengan menghidupkan kisah kambing hitam paling tambun: Loris Karius.

Sepak bola selalu membawa-bawa label suportivitas, wacananya selalu menganggap kekalahan adalah perkara biasa dalam setiap pertandingan. Namun, pada kenyataannya, sepak bola begitu menjunjung kejayaan.

Dari atas lapangan, kekalahan menjadi luka yang panjang umur. Yang namanya luka, pasti membutuhkan obat. Tapi, tak ada obat yang lebih mujarab ketimbang kemenangan. Dan selama kemenangan itu belum bisa diraih, kambing hitam menjadi pereda rasa sakit untuk sementara.

Maka, atas ketiga gol Madrid yang bersarang di gawang Liverpool yang dikawal Karius, ia dipandang sebagai sosok yang paling bertanggung jawab atas kekalahan Liverpool di laga ini. Kekalahan tak jadi satu-satunya persoalan yang ditanggung Karius, tak perlu waktu lebih dari semenit untuk mencari meme dan olok-olokan khas dunia maya tentangnya.

Penjaga gawang asal Jerman ini lantas mengakui bahwa ia memang salah perhitungan menyoal kebobolan tadi. Tapi, memangnya apa pula yang bisa ia buat lagi? Katanya, ia berharap bisa memutar waktu dan mencegah kesalahan ini terjadi.

Sayangnya, kewenangan waktu tak pernah menjadi urusan manusia. Karius hanya bisa menerima dan berusaha bangkit walaupun upayanya tak akan mudah sama sekali.

I

Tak peduli seberapa sering narasi tentang kesunyian dan keberbedaan kiper yang mendayu-dayu itu dikisahkan, kekalahan tim tetap akan melahirkan tudingan kepada kiper. Ia menjadi lumrah dalam sepak bola.

Lucunya, pada dasarnya kita, para penonton, juga setuju bahwa perkara menjadi kiper bukan persoalan mudah. Coba ingat-ingat lagi permainan sepak bola zaman bocah kita masing-masing. Memangnya, kita mau jadi kiper? Semua ingin jadi penyerang. Mereka yang menjadi kiper adalah orang-orang yang kalah dalam *gambreng. *

Untungnya, Karius tetap bersikap seperti satria. Begitu peluit panjang dibunyikan, ia memang sempat tersungkur. Meratapi kekalahan dengan menangis tersedu-sedu seperti bocah yang kehilangan mainan kesayangan. Pemandangan yang membikin miris dan tak mengenakkan hati. Kontras bila dibandingkan dengan perayaan kemenangan para penggawa Madrid.

Menyoal blunder Karius dan segala akibatnya yang mengekor, kumparanBOLA berbincang dengan mantan penjaga gawang Timnas Indonesia yang sekarang menjadi pelatih kiper Madura United, Hendro Kartiko.

Di mata Hendro yang tak bisa berjauh-jauhan dengan mistar gawang walaupun sudah memutuskan untuk gantung sepatu, tekanan kerap menjadi lawan terberat siapa pun yang didaulat menjadi kiper. Dan di pertandingan puncak ini, ia dengan jelas, melihat beban tak kasatmata tapi kelewat berat menempel di pundak Karius.

“Persoalan Karius ini persoalan human error. Saya melihatnya sebagai kesalahan individu seorang kiper. Benar, dia blunder. Dan yang namanya human error, pasti ada kaitannya dengan mental. Dengan tekanan.”

“Kita semua tahu seperti apa pertandingan ini buat Liverpool. Sudahlah final, Liga Champions ini juga jadi satu-satunya gelar yang masih bisa diusahakan Liverpool. Mereka sudah kalah di Liga Inggris, di Piala FA juga. Ya, wajar kalau bebannya jadi benar-benar berat,” jelas Hendro kepada kumparanBOLA.

II

Dalam praktiknya, kiper dianggap sebagai pemain yang diberikan hak khusus. Pemain-pemain lain bakal dihukum bila bermain dengan menggunakan tangan. Namun bagi kiper, tangan menjadi salah satu senjata utama. Sudah boleh pakai tangan, masa tidak bisa juga, sih, begitu pikiran kebanyakan penonton.

Sebenarnya, kiper adalah bagian dari lini pertahanan. Kiperlah yang menjadi palang pintu terakhir pertahanan setiap tim. Namun, kiper bukan hanya sosok yang berdiri di depan gawang.

Penjaga gawang bukan pemain yang baru bergerak dan bersiaga bila lawan mendekati kotak penalti. Kiper adalah pemimpin lini pertahanan. Tugasnya tak cuma menghalau bola, tapi mengorganisir lini pertahanan. Karena tugasnya yang benar-benar tak mudah inilah, ia diberi keistimewaan.

Di mata Hendro, ada satu masalah fatal yang ditunjukkan Karius di sejumlah laga, termasuk final Liga Champions ini. Karius tidak tampil sebagai kiper yang cerewet, yang tegas mengatur teman-temannya yang berperan sebagai bek. Padahal, ini tugas krusial. Sudut demi sudut lapangan seharusnya menjadi hitung-hitungan yang harus dikuasai dengan khatam oleh seorang kiper.

“Kiper yang baik harus bisa memimpin tim, apalagi di sepak bola modern macam sekarang. Kiper harus bisa terlibat banyak dalam permainan. Nah, Karius itu kurang cerewet, dia kurang berani nyuruh-nyuruh temannya untuk nutup.”

Menilik sistem permainan yang kerap diusung oleh Juergen Klopp, ucapan Hendro ini memang sejalan. Apa pun timnya,gegenpressing tetap menjadi andalan Klopp bila menyoal taktik.

Sebagai pengingat, di konferensi pers awal kedatangannya, Klopp pernah menegaskan bahwa ia bukan tipe pelatih yang suka menggembar-gemborkan ambisi menguasai dunia. Hal pertama yang ia inginkan dari timnya, menguasai bola.

Kata Klopp waktu itu, “Kami akan menguasai bola pada setiap kesempatan. Kami akan mengejar bola, kami akan berlari lebih banyak, bertarung lebih sengit. Kami akan bekerja sama dengan lebih baik. Kami akan memiliki organisasi pertahanan yang lebih baik dari kesebelasan-kesebelasan lain.”

Organisasi pertahanan menjadi frasa utama. Akibatnya, gegenpressing sepintas tampak seperti taktik yang mengibadahi pertahanan agresif. Setiap pemain bertanggung jawab terhadap satu pemain lawan dan area tertentu.

Bila dipraktikkan, maka ia akan menjadi seperti ini: Ketika seorang pemain menekan lawan yang memiliki bola atau menutup jalan umpannya, para pemain lain mengawasi lawan mereka masing-masing dan bersiap untuk segala kemungkinan.

Itulah sebabnya, Klopp membutuhkan pemain-pemain pekerja keras dan perespons cepat dalam timnya, termasuk Liverpool. Karena menuntut kerja keras, maka setiap pemain butuh energi lebih. Karena meminta respons cepat, setiap pemain harus punya fokus tinggi.

Sebenarnya tujuan Klopp baik, ia ingin membentuk tim dengan pertahanan kokoh sehingga aman dalam membangun kreativitas serangan. Masalahnya, Klopp bukan pelatih yang kaya dengan variasi taktik, opsinya pemainnya juga tak banyak. Bila dibandingkan dengan skuat Madrid yang berangkat ke Kiev, tentu jadi keadaan yang bertolak belakang.

Selepas Salah ditarik keluar, Liverpool bukannya tak menekan sama sekali. Namun, tekanannya tertebak dan pemain lawan punya variasi serangan yang lebih beragam, yang ditunjukkan dengan keberhasilan Gareth Bale menggantikan peran Isco yang tak mumpuni di laga ini.

Menghadapi variasi tekanan Madrid, pemain-pemain Liverpool kehilangan fokus. Di satu sisi, mereka bisa menekan, tapi tak bisa melepaskan diri dari tekanan lawan. Selain serangan bersifat lebih sporadis, organisasi pertahanan Liverpool jadi kacau.

Tanpa pemain yang bisa mengatur pertahanan, masalah-masalah berikutnya datang. Tak heran bila gawang Liverpool menjadi bulan-bulanan pemain Madrid.

“Paling kentara, di gol kedua, ya. Karius kehilangan fokus, jadinya salah membaca bola. Golnya Bale itu kan tendangan salto, jadi bolanya lebih tinggi. Kalau menurut saya, Karius tadinya mikir, bola itu arahnya tidak tinggi, makanya dia salah ambil keputusan antisipasi.”

III

Persoalan mental, lagi-lagi menjadi hal yang disoroti Hendro dalam laga ini. Baginya, kesalahan-kesalahan Karius di pertandingan ini diawali dengan kegagalannya mengalahkan diri sendiri. Lantas, ia pun bercerita seperti apa melakoni pertandingan sebagai seorang kiper. Ia mengakui, narasi-narasi soal kiper yang kerap disalahkan itu benar-benar terjadi di atas lapangan bola.

“Kalau ditanya seperti apa rasanya, yang paling berat itu sebelum pertandingan. Waktu jalan masuk ke lapangan. Saya juga seperti itu. Ya, jadi beban. Nah, di situ kuncinya. Lawan paling berat itu kan diri sendiri, bukan tim lain,” ungkap Hendro.

“Kalau saya, setiap berhasil mengalahkan tekanan sendiri, pertandingan itu bakal tidak jadi terasa seperti pertandingan. Ya, jadi seperti latihan saja. Yang paling penting, kiper itu harus bisa menikmati pertandingan dulu. Karius seharusnya mengalahkan diri sendiri dulu, baru bisa mengalahkan lawan.”

“Namanya kiper, kalau tim kalah pasti dia duluan yang disalahkan. Kalau timnya menang, yang dicari, ya, yang mencetak gol. Ya, memang seperti itu. Kesalahan Karius di gol kedua itu rasanya benar-benar jadi beban buat Karius. Setelah gol kedua, beban (rasa bersalah -red) terbawa-bawa terus. Jadilah gol ketiga itu,” tegas Hendro.

—–

Di laga melawan Madrid itu, lawan tiga kali menyeret Karius jauh ke ujung garis pertahanan. Dia ada di bawah mistar, melompat ke arah yang salah, dan menyaksikan lawan berpesta merayakan gelar juara.

Loris Karius mengakhiri harinya yang buruk dengan ucapan singkat, tapi dengan pemahaman sekaligus. Tegar, tapi tak sanggup menutupi luka yang kelewat telanjang. “Semuanya jadi terasa sulit. Gol-gol tadi mengorbankan gelar juara. Tapi, itulah kehidupan seorang kiper. Kepala saya harus kembali tegak.”

 

Sumber:

Written by 

Related posts

Leave a Comment