Search

Kejanggalan Aksi Lonewolf di Gereja Lidwina Sleman

BABEBOLA –  Aksi teror di Gereja Santa Lidwina, Bedog, Sleman, diduga merupakan lonewolf atau pelaku tunggal yang tidak berafilasi dengan kelompok teror manapun. Sebab, pelaku, Suliyono, tercatat tidak pernah bergabung dengan kelompok teror manapun dengan bentuk aksi yang berbeda.

“Ini lonewolf terorism yang dimotivasi oleh keinginan individual,” ujar pengamat terorisme dari Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Zaki Mubarak, saat dihubungi, Senin (12/2).

Menurut Zaki, penulis buku ‘Genealogi Islam Radikal di Indonesia’, setidaknya ada tiga keunikan yang patut menjadi sorotan dalam aksi teror Suliyono.

Pertama, aksi teror dilakukan di tengah frekuensi yang tengah menurun, sejak serangan teror di Terminal Bus Kampung Melayu, Jakarta Timur, Mei 2017 silam.

Kedua, aksi teror Suliyono kembali menyasar rumah ibadat dan pemuka agama. Padahal, kata Zaki, aksi teror terjadi di Indonesia dalam lima tahun terakhir menargetkan aparat kepolisian sebagai korban.

Ketiga, aksi teror dilakukan dengan menggunakan pedang, bukan bom seperti kasus yang terungkap beberapa waktu terakhir.

“Ini semua menarik, karena terjadi di tengah frekuensi yang menurun dan langkah penangkapan yang baru dilakukan aparat kepolisian beberapa waktu lalu,” ujar Zaki.

di Gereja Lidwina, Dk. Jambon Trihanggo, Sleman, Minggu (11/2).

Terlepas dari itu, ia mafhum dengan kondisi Yogyakarta yang merupakan basis pengorganisasian sejumlah kelompok radikal. Menurutnya, Kota Gudeg dipilih karena tidak termasuk dalam wilayah yang menjadi fokus aparat keamanan, seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.

“Yogya basis pengorganisasian, ada beberapa kelompok radikal. Aksinya mereka lakukan di luar Yogya,” ungkapnya.

Kelompok yang banyak tumbuh di wilayah ini, kata dia, adalah kelompok salafi jihadis. Menurutnya, kelompok ini memiliki pemikiran yang keras dan kaku, karena menganggap sesuatu yang tidak ada pada zaman Nabi Muhammad sebagai bidah.

Bagi Zaki, kelompok salafi jihadis juga berbahaya karena bisa menyerang siapa saja yang tidak menganut paham serupa.

Berdasarkan penelusuran CNNIndonesia.com, aksi terorisme tidak banyak terjadi di kota pelajar ini. Namun, tim Detasemen Khusus (Densus) 88/Antiteror Polri pernah melakukan sejumlah penangkapan terhadap terduga terorisme di Yogyakarta.

Penangkapan pertama dilakukan Densus 88 terhadap Agus Ari, di Sleman, pada 25 Agustus 2015. Kedua, Densus 88 pernah menangkap seorang warga Gunungkidul berinisial RS yang diduga berperan sebagai pemberi dana kepada anggota kelompok militan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) di Marawi, Filipina, 7 Juni 2017.

Terpisah, Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengaku masih menelusuri soal kemungkinan pelaku adalah anggota jaringan terorisme tertentu atau lonewolf.

Ia telah memerintahkan Densus 88 dan tim intelijen dari Polri dan berkoordinasi dengan Polda DIY untuk mendalami hal tersebut.

“Persoalan apakah bekerja sendiri atau bagian dari jaringan, ini sedang dikejar tim Mabes Polri dan Polda DIY,” ujarnya.

Namun demikian, kata Kapolri, Suliyono, pria asal Banyuwangi, Jawa Timur, ini tercatat pernah berpindah-pindah tempat tinggal. Antara lain, Poso, Sulawesi Tengah; dan Magelang, Jawa Tengah.

Suliyono juga disebutnya pernah gagal saat berupaya membuat paspor untuk berangkat ke Suriah.

“Ada indikasi kuat yang bersangkutan terkena paham radilkal. Pernah membuat paspor Suriah tapi tidak berhasil,” ucap Kapolri.

Suliyono (23), dengan membawa pedang, meneror sekitar 200 jemaat Misa di Gereja Santa Lidwina, Bedog, Sleman, DIY, Minggu (11/2). Dia melukai empat orang, mulai dari jemaat, pastor, hingga aparat kepolisian.

Written by 

Related posts

Leave a Comment