Search

Klakson Penanda Keberadaan Pengendara, Jangan Emosional Dibuatnya

Klakson Penanda Keberadaan Pengendara, Jangan Emosional Dibuatnya

BabeBola.net – Jakarta – Baru-baru ini sebuah video pertikaian di jalan raya jadi sorotan di media sosial. Pertikaian tersebut membuat seorang pengendara berinisial C terluka di bagian kepada karena dipukul pengendara lain.

Usut punya usut, pertikaian itu dipicu bunyi klakson. Pelaku merasa tak terima dengan klakson yang dibuyikan C di Jalan Karawitan, Kota Bandung pada Senin (31/7/2017). Lantas bagaimana semetinya seorang pengendara menggunakan klakson?

“Kalau klakson lalu dipukul mungkin yang diklakson punya masalah. Klakson itu kan sebagai simbol untuk mengingatkan jadi kadang-kadang penggunaan klakson pun harusnya digunakan pada tempatnya. Kadang-kadang kalau kita tidak punya kemampuan berkomunikasi, ya klakson itu lah caranya,” kata pengamat perkotaan Yayat Supriatna
Yayat menilai, ketersingungan antar-pengendara bisa terjadi karena membunyikan klakson. Itu terjadi jika klakson dibunyikan secara asal-asalan dan bukan untuk mengingatkan pengendara lain.

“Pertanyaannya kenapa orang tersinggung, mungkin cara menggunakan klakson tidak tepat. Gunakanlah klakson pada saat kapan klakson itu digunakan, misalnya pada saat mengingatkan. Bagaimana cara mengklakson yang baik itu juga penting, etika menggunkaan klakson itu juga penting. Masyarakat ini kan tertekan karena sturktur kemacetan. Jadi ada tekanan lingkungan. Sudah emosi semua gampang tersinggung. Ketika dia diganggu pasti dia marah,” ujarnya.

Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan mengatur bahwa setiap kendaraan bermotor yang dioperasikan di jalan harus memenuhi persyaratan teknis dan laik jalan. Syarat laik jalan ditentukan oleh kinerja kendaraan bermotor yang bisa diukur, salah satunya adalah suara klakson. Aturan ini dimuat dalam pasal 48.

Aturan lebih rinci soal klakson ada di Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2012 tentang Kendaraan. Klakson harus bisa mengeluarkan bunyi.

“Klakson sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35 huruf d harus mengeluarkan bunyi dan dapat digunakan tanpa mengganggu konsentrasi pengemudi,” demikian bunyi pasal 39.

Suara klakson diatur di Pasal 69. Suara klakson paling rendah 83 desibel (dB) dan paling tinggi 118 desibel (dB).

 

Sumber : DETIK

Written by 

Related posts

Leave a Comment