Search

KPK Siap Jelaskan Selisih Kerugian Negara di Dakwaan Setya Novanto

BABEBOLA Dalam pembacaan eksepsi, kuasa hukum Setya Novanto menyatakan ‎surat dakwaan pada kliennya, memuat kerugian keuangan negara yang tidak nyata dan tidak pasti.

Kerugian tidak pasti karena ada perbedaan antara jumlah penerimaan di dakwaan perkara sebelumnya milik Irman dan Sugiharto, dan Andi Agustinus alias Andi Narogong, dalam kasus korupsi KTP elektronik tersebut.

Saat membacakan eksepsi, penasehat hukum Setya Novantomerasa ada selisih kerugian negara negara pada perkara Setya Novanto sebesar Rp 105.302.000.

Pada perkara sebelumnya, kerugian negara yang yang dinyatakan adalah Rp 2.314.904.234.275.

Angka tersebut berdasarkan penghitungan BPKP berdasarkan Laporan Hasil Audit Dalam Rangka Penghitungan Kerugian Negara tanggal 11 Mei 2016.

Ketua tim penasehat hukum Novanto, Maqdir Ismail mengatakan kerugian keuangan negara tersebut tidak memperhitungkan penerima uang kepada Setya Novanto sejumlah 7,3 juta dollar Amerika Serikat atau Rp 94.900.000.000 dan 800.000 dollar Amerika Serikat kepada Charles Sutanto Ekapradja dan kepada Tri Sampurno sebesar Rp 2 juta.

Menurut Maqdir tidak tercatatnya penerimaan uang oleh Novanto, Charles dan Tri Sampurno menyebabkan terdapat penambahan kerugian negara. Kerugian negara menjadi Rp2.420.206.234.275 dari semula Rp2.314.904.234.275.

Menyikapi ini, Juru Bicara KPK, Febri Diansyah mengatakan soal itu akan dijelaskan lebih detail dalam jawaban terhadap eksepsi di sidang berikutnya, termasuk dalam proses pembuktian lebih lanjut.

“Kita juga mengenal ‎perkembangan dari fakta-fakta persidangan, bukti-bukti baru mungkin saja dihadirkan di persidangan sehingga pengembangan praktik itu dapat saja terjadi, tapi rincinya kita uji nanti selama proses persidangan,” terang Febri, Rabu (20/12/2017) di KPK, Kuningan, Jakarta Selatan.

Febri juga menyatakan ‎kerugian negara akibat kasus mega korupsi KTP elektronik tetap Rp 2,3 triliun.

Meskipun, terdapat beberapa perbedaan dalam dakwaan Setya Novanto dengan terdakwa sebelumnya seperti Irman, Sugiharto, dan Andi Agustinus alias Andi Narogong.

“Dakwaan yg digunakan untuk terdakwa SN (Setya Novanto), tentulah dakwaan SN. Itulah yang akan dibuktikan nantinya. Karena perbuatan Irman, Sugiharto dan andi Agustinus berbeda dengan perbuatan SN,” ungkap Febri.

Febri menjelaskan dakwaan mantan Ketum Golkar itu, dengan dakwaan Irman, Sugiharto, dan Andi Narogong, berbeda. Sebab, perbuatan pidana dalam kasus dugaan korupsi KTP elektronik ini, berbeda pula.

Kendati begitu, secara keseluruhan, kerugian negara atas kasus ini tetap sama yakni, Rp2,3 triliun.

“Secara umum kontruksi dakwaan tetap sama dengan kerugian negara Rp2,3 triliun,” tegas Febri.

 

 

 

 

 

 

SUMBER

Written by 

Related posts

Leave a Comment