Search

Kurangi Risiko Bencana, BNPB Ingin Lakukan Penyuluhan di Tempat Ibadah

Ilustrasi bencana diseret ombak atau banjir(TOTO SIHONO)

JAKARTA, KOMPAS.com – Deputi Pencegahan dan Kesiapsiagaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Wisnu Wijaya mengatakan pihaknya menggunakan berbagai cara untuk melakukan penyuluhan antisipasi kebencanaan.

Dia mengungkapkan bahwa penyuluhan itu salah satunya dilakukan di masjid dan fokus pada pra kebencanaan atau pencegahan.

“Itu fokusnya lebih ke arah preventif. Pengurangan risiko bencana sebelum kejadian. Kami penyuluhan melalui masjid. Sudah ada di Padang, tapi sifatnya lokal,” kata Wisnu, di Istana Wakil Presiden, Jakarta, Jumat (5/5/2017).

Wisnu berharap program penyuluhan melalui masjid itu diterapkan secara nasional. Karenanya, BNPB bekerjasama dengan Dewan Masjid Indonesia, Ikatan Ahli Bencana Indonesia, Nahdhatul Ulama danMuhammadiyah, untuk merealisasikannya.

“Jadi semua kekuatan kita bersatu, mengurangi dampak kerugian akibat bencana. Target kami korban kurang, jumlah yang terdampak kurang, kerusakan kurang, kemudian kerugian ekonomi kami kurangi,” ujar dia.

Menurut Wisnu, melalui khotbah, kesadaran akan penanggulangan bencana dan menjaga keseimbangan alam akan terus digalakkan.

“Nanti kalau khotbah, itu disampaikan. Itu caranya seperti ini, kami harus ramah lingkungan. Karena bencana saat ini banyak hidrometrologi atau hujan, 90 persen,” ujar Wisnu.

(baca: BNPB Sebut Fenomena Hujan Es Tak Berdampak Merusak, Ini Penjelasannya)

“Karena apa, karena ulah manusia merusak alam. Dengan merusak itu, panennya kita juga panen bencana. Bahkan 2016, itu meningkat 39 persen. Dari sekitar 1.000 berapa menjadi 2.384 kejadian,” ucap Wisnu.

Wisnu mengaku khawatir jumlah korban dan daerah terdampak bencana akan bertambah banyak jika tidak dilakukan penyuluhan mengantisipasi terjadinya bencana.

“Jika kita hanya begini-begini saja, pasrah saja, korban akan terus dan kita akan terkaget-kaget. Jadi ini yang kami yakinkan melalui masjid. Karena bencana itu selalu multidimensi, dan persepsi. Artinya, bahwa tiap orang berbeda-beda,” kata Wisnu.

Tak hanya masjid, BNPB juga ingin melakukan penyuluhan di gereja, dan penyuluhan berbalut acara kesenian serta budaya.

“Kita harapkan gereja nanti juga ada. Jadi melalui religi. Karena semuanya berhak untuk dilindungi dan berhak untuk mendapatkan informasi (mencegah bencana terjadi),” ujar Wisnu.

Ancaman longsor

Wisnu mengingatkan, ancaman terbesar bencana alam tahun ini adalah longsor. Menurut Wisnu, longsor bisa terjadi karena dipicu tingginya curah hujan.

Karenanya, kata Wisnu, BNPB menyediakan peralatan penanggulangan bencana yang disebar di sejumlah wilayah rawan bencana sebagai langkah antisipasi.

“Sejak 2016 hujan terus. Artinya tanah sudah jenuh dan ada sedikit perubahan karakter dari hujan. Begitu kena hujan cukup tinggi, longsor. Itu bencana paling mematikan di Indonesia,” ujar dia.

 

Written by 

Related posts

Leave a Comment