Search

Masa Kecil Dhawiya Selalu Dimanja dan Disiplin untuk Pendidikan Agama

BABEBOLA Anak bungsu dari Elvy Sukaesih, Dhawiya Zaida saat ini jadi pergunjingan masyarakat karena kasus narkoba.

Saat masih kecil, Dhawiya ternyata sangat dimanja oleh sang ayah Zaidun Zeidh Abu Bakar Jindan.

Namun sosok yang paling dekat untuk Dhawiya adalah kakaknya yang kedua Fitria Sukaesih.

Dilansir dari hasil wawancara Cumicumi.com via Youtube, Fitria merasa punya peran seperti seorang ibu.

“Dhawiya jadi momongan saya, saya kontrol, ajak berenang saya yang ajak, akhirnya dia panggil saya Mama Tia,” ujar Fitria dalam wawancara tersebut.

Ratu Dangdut di era 80-an ternyata cukup disiplin dalam mengajarkan anak-anaknya, terutama pendidikan agama.

Menurut Fitria, hasilnya cukup terasa saat itu.

Pasalnya anak kedua Elvy Sukaesih itu menilai semua saudaranya menjadi anak yang menurut dan disiplin terkait ajaran agama.

“Alhamdulilah kita bisa jadi anak-anak yang nurut dikasih tahu Umi selalu mendidik pada ajaran agama bahwa semua diperintahkan Allah dan Rassul,” kata Fitria.

Cita-cita Jadi Artis

Dhawiya dari kecil ternyata mempunyai cita-cita jadi artis.

Inspirasi tersebut tentu setelah melihat dari sang ibu.

“Aku dari kecil enggak punya cita-cita lain selain jadi penyanyi kaya mama,” ujar Dhawiya dalam sesi wawancara tersebut.

Keinginan yang kuat Dhawiya dibuktikan saat acara 17 Agustus.

Dhawiya kecil pada saat itu berani ke atas panggung sendiri.

Tanpa ditemani saudara dan orangtua, Dhawiya bernyanyi di atas panggung.

“Dia naik mana saja terutama panggung 17 Agustusan,dia naik sendirian,” kata Fitria.

Kakaknya yang berbeda usia 18 tahun itu mengacungi jempol keberanian Dhawiya sejak saat itu.

“Anak kecil itu sudah bernyanyi seperti itu Dhawiya lebih mandiri, terbuka, berani,” ujarnya.

Dimanja Sang Ayah

Anak bungsu selalu identik dengan kemanjaan.

Hal itu pun yang terjadi dari anak bungsu dari keenam anak Elvy Sukaesih itu.

Dhawiya selalu dilindungi sang ayah Zaidun Zeidh Abu Bakar Jindan sejak kecil.

Rumah dengan halaman yang luas dipersiapkan Dhawiya agar tidak perlu bermain ke luar.

“Tapi namanya anak kecil kan bosan ya, pasti mau main ke luar,” ujar Dhawiya.

Suatu ketika Dhawiya pernah terluka kakinya akibat jatuh main sepeda.

Pada saat itu Dhawiya pun tidak berani untuk pulang ke rumah.

Pasalnya, ia tahu sang ayah akan memarahinya.

“Aku belajar sepeda lecet enggak berani pulang karena pasti diomelin,” kata Dhawiya.

Semua saudara pun harus melindungi kondisi Dhawiya.

Karena jika terjadi sesuatu pada Dhawiya, sang ayah akan marah.

Dhawiya memberi contoh pada saat dia tersengat listrik, seluruh kakaknya berusaha menutupi cerita tersebut.

Jika cerita tersebut bocor, semua kakanya akan terkena marah oleh sang ayah.

“Aku pun sempat kesetrum seperti geger sedunia, sampai kakak aku sudah kenapa-kenapa pesan ke orang rumah, jangan boleh bilang Dhawiya kenapa-kenapa,” kata Dhawiya.

Jadi Contoh yang Baik

Walaupun dari kecil dimanja, tetapi Dhawiya juga dikagumi oleh saudara sepupunya, Zachira.

Menurut Zachira sosok Dhawiya bisa menjadi suri tauladan.

Bahkan Zachira menilai Dhawiya bisa menjadi seorang ibu baginya.

“Kak Dhawiya di mata aku dia mama ke tiga, setelah mama aku, dan nenek,” katanya.

Zachira melihat Dhawiya saudara yang perhatian dan peduli dengan saudaranya.

“Dia care baik selalu kasih solusi, ngajarin ini itu, ngedukung banget orangnya,” papar Zachira.

Written by 

Related posts

Leave a Comment