Search

Memacu Adrenalin dengan Drifting

BABEBOLA– Pernah mendengar kata Tokyo Drift? Ya, sebuah ajang balap mobil dengan modifikasi super canggih dan keren dalam film The Fast and The Furious: Tokyo Drift. Tidak dapat disangkal, kesuksesan film ini pada 2006 telah menggugah hobi-hobi baru terkait balap mobil atau olahraga automotif, contohnya drifting. Seperti apa, ya?

Drifting atau dikenal di Indonesia dengan mengepot adalah teknik menyetir di mana pengemudi berusaha membuat mobilnya berada dalam posisi miring dan meluncur selama mungkin. Biasanya para pembalap drifting (drifter) hanya menggunakan gigi dua dan rem tangan (hand brake) untuk menunjukkan teknik tingkat tinggi tersebut.

Dibutuhkan keahlian tertentu dan kedisiplinan yang cukup tinggi untuk dapat menguasai teknik mengemudi seperti ini. Kompetisi drifting profesional sudah banyak diselenggarakan di seluruh dunia.

Cara penilaian kompetisi drifting dihitung dari tingkat kecepatan, tikungan yang sangat tipis dengan garis jalur, dan keindahan dalam memainkan mobil yang menukik pada tikungan tajam. Biasanya mobil yang diturunkan dalam ajang drifting adalah mobil yang berbobot ringan hingga sedang dengan tipe coupe dan menggunakan penggerak roda belakang atau front engine, rear wheel drive (FRWD).

Sebab, pada mobil jenis ini, tenaga untuk sliding selalu disalurkan roda belakang. Sedangkan, roda depan dimanfaatkan untuk mengontrol mobil selama melakukan sliding. Drifting tumbuh di Jepang sekitar pertengahan 1960-an yang dipelopori kalangan pencinta balap yang dijuluki Rolling Zoku. Mereka mengadaptasi teknik opposite-lock dari balap rally di jalan pegunungan yang berkelok-kelok dan beraspal licin di wilayah Rokkosan, Hakone, Irohazaka, dan Nagano.

Pada 1970-an, Kunimitsu Takahashi, pembalap F1 legenda Jepang, mendapatkan inspirasi ketika dia mencoba bagian depan mobilnya mengikuti apex (titik paling pinggir sebuah tikungan) dengan kecepatan tinggi dan menggunakan rem tangan untuk mengikuti tikungan itu.

Seseorang bernama Keiichi Tsuchiya langsung tertarik dengan teknik drifting. Tsuchiya terus berlatih drifting di jalan-jalan pegunungan di Jepang sehingga dijuluki Dorikin alias King of Drifter.

Pada 1987, para modifikator setuju untuk merekam Tsuchiya saat drifting dan memopulerkannya. Video tersebut menjadi hit dan membuat banyak orang tertarik. Hal ini didukung pula dengan popularitas komik Initial D. Kemudian, pendiri Option Magazine dan Tokyo Auto Salon, Daijiro Inada, bersama Tsuchiya membuat seri kompetisi drifting profesional, D1 Grand Prix (D1GP), pada 2001.

Drifting sudah menjadi olahraga profesional yang berjalan di bawah bendera D1 Grand Prix. Sayangnya, sampai saat ini drifting belum mendapat pengakuan dari Federation Internationale de IAutomobile (FIA), yakni sebuah lembaga untuk motorsport dunia dan federasi organisasi automotif terkemuka di dunia yang berpusat di Paris, Prancis.

Di Indonesia, drifting mulai ada sekitar 2005. Saat itu event pertama drifting diselenggarakan di Jakarta International Expo (Jiexpo), Kemayoran, Jakarta. Juara pertamanya adalah Didi Hardianto yang dijuluki King of Drifter (drifter profesional). Di drifting, selain ada King of Drifter, ada juga Rookie (drifter pemula). Pada tahun berikutnya, Didi membuat event drifting yang memunculkan King of Drifter baru, yaitu Emmanuelle Amandio.

Di event-event drifting tersebut, hadir pembalap-pembalap jalanan. Akhirnya, para drifter Indonesia mengajak mereka ikut balapan di event-event drifting. Dari sanalah drifting di Indonesia berkembang. Kejuaraan Nasional Drifting pertama kali diselenggarakan pada 2009. Lalu, pada 2010, drifter Indonesia sudah bisa bersaing dengan drifter dari luar negeri.

Para drifter Indonesia sudah membawa nama Indonesia ke kompetisi drifting di seluruh dunia, seperti di Jepang, Amerika, Rusia, dan negaranegara di kawasan Asia Tenggara. Sampai saat ini Kejuaraan Nasional Drifting masih rutin diselenggarakan setiap tahunnya.

Tantangan dan Harapan 
Tantangan bagi drifting di Indonesia saat ini adalah minimnya lahan latihan. Hal itu diungkapkan Amandio, King of Drifter Indonesia yang pernah menjadi 3rd Champion D1GP Japan Round 4 tahun 2013 di Fukushima, Jepang.

“Kita punya potensi drifter yang banyak dan kuat, tapi sayang lahan latihan kita minim. Jadi, kita hanya bisa melepaskan keinginan pada saat event dan latihan-latihan kecil,” kata Amandio. Sirkuit Sentul adalah salah satu lahan yang digunakan para drifter Indonesia untuk latihan.

Namun, latihan drifting di Sirkuit Sentul juga harus menunggu giliran karena sirkuit tersebut bukan hanya untuk drifting, melainkan juga balapan mobil, balapan motor, gokar. “Drifting ini olahraga paling baru di Indonesia, beberapa masih menganggapnya sebelah mata. Mereka belum bisa melihat potensi drifting yang sebenarnya,” ungkap Dika Credenda Handogo (Dika CH), King of Drifter Indonesia yang pernah menempati posisi 6th Place formula Drift Asia 2012. Perkembangan drifting di Indonesia naik-turun.

Meski sempat lesu pada beberapa tahun lalu, kali ini drifting mencoba bangkit kembali. Salah satu pihak yang terus mendukung perkembangan drifting di Indonesia adalah Intersport.

Terbukti, pada 4-5 November lalu, Intersport kembali menyelenggarakan event drifting di JIExpo, Kemayoran, Jakarta, bertajuk Intersport World Stage: Battle Drift Indonesia vs The World. Berbeda dengan penyelenggaraan pada 2015 dan 2016, tahun 2017 ini Intersport hadir dengan konsep baru dan cakupan yang lebih luas.

Jika pada lintasan drifting biasa menggunakan cone, kali ini Intersport menghadirkan konsep baru, yaitu mengganti cone dengan forklift, excavator, dan container.

Intersport juga mengundang tiga drifter internasional untuk datang ke event ini, yaitu Masashi Yokoi (Jepang), S Chanatpon Kerdpiam (Thailand), dan Jake Jones (Australia). Kent Rusdi, Brand Manager Intersport, mengungkapkan, Intersport berharap adanya event ini akan bermunculan talent drifting yang baru.

“Saya berharap akan ada orang-orang yang terpancing dan melihat drifting lebih dekat di event ini. Lalu, mereka bisa menemukan cintanya terhadap drifting dan bisa melihat seni dalam drifting,” ucap Kent.

Intersport juga memiliki awareness yang tinggi terhadap perkembangan drifting di Indonesia. Salah satunya dengan memberikan informasi seputar drifting melalui intersport.id. Namun, itu saja dirasa belum cukup. Untuk itu, mulai tahun depan, Intersport akan melakukan pembinaan bagi mereka yang tertarik mengenal drifting lebih jauh.

“Kami akan terus menyelenggarakan event drifting semacam ini dan berusaha menghadirkan drifter internasional lebih banyak lagi. Harapannya, mereka bisa menghargai drifting di Indonesia di level yang sama di panggung dunia. Kami juga berharap ke depannya Indonesia bisa menjadi negara dengan destinasi olahraga motorsport,” ujar Kent.

Sebelum gelaran puncak pada November ini, Intersport sudah menyelenggarakan Intersport Road to World Stage Qualifier di beberapa kota, yaitu Tangerang, Bandung, Yogyakarta, dan Surabaya, dengan berbagai kategori.

Salah satu contoh juaranya adalah M Firman Fauzi asal Tasikmalaya yang menjadi juara 1 Kelas Rookie Rear Wheel Drive (RWD) di Bandung dan berhasil mendapatkan kesempatan bersaing dengan juara-juara dari kota lainnya di tingkat nasional. Cowok lulusan Pendidikan Ekonomi, Universitas Siliwangi, ini mulanya terjun ke dunia drifting pada 2011.

“Saya suka merasa stres di rumah. Karena saya senang menyetir mobil dan menyukai tantangan yang memacu adrenalin, saya sering melakukan street drifting (mengepot di jalanan),” kata Firman.

Di Tasikmalaya, dia tergabung dalam komunitas Tasik Slalom Drift yang menjadi tempatnya belajar dan latihan drifting. Sifat saling membantu di antara drifter di Indonesia menjadi angin segar akan eksistensi olahraga ini.

Amandio mengatakan, saat ini para rookie fokus pada misi memperkuat drifting di Indonesia, misalnya mengadakan drift gathering atau semacamnya.

Sedangkan, para King of Drifter lebih sering pergi ke pertandingan di luar negeri untuk memperkenalkan kepada dunia bahwa di Indonesia juga ada drifting. Well, semoga ke depannya drifting di Indonesia semakin maju!

Lena Riana Sani Gen Sindo 
Universitas Negeri Jakarta

 

 

 

 

sumber:

Written by 

Related posts

Leave a Comment