Search

Mengenang Choirul Huda yang Hidup dan Matinya untuk Persela Lamongan

BabeBola.net – Kita semua merasa kehilangan atas kepergian Choirul Huda, penjaga gawang sekaligus kapten Persela Lamongan, pada hari Minggu (15/10). Kepergian pemain 38 tahun tersebut terasa janggal karena pada hari yang sama ia masih sempat menjalani pertandingan bersama rekan-rekannya ketika menjamu Semen Padang di Stadion Surajaya.

Huda meninggal di RSUD dr. Soegiri Lamongan setelah mengalami benturan pada dada kirinya. Ia dinyatakan menghembuskan nafas terakhir pada pukul 17.15 WIB karena hypoxia—kondisi ketika jaringan tubuh kekurangan oksigen.

Kronologinya, Huda bermain sejak menit awal dalam pertandingan menghadapi Semen Padang tersebut. Ia masih menunjukkan wajah sumringah ketika akan memasuki lapangan.


Jelang akhir babak pertama, senyum di wajah Huda hilang—yang nantinya akan menghilang selamanya. Pada menit 44 pertandingan tersebut, Huda mengalami benturan keras dengan rekannya sendiri, Ramon Rodrigues. Kala itu ia ingin menghentikan bola karena ia tahu gawangnya sedang terancam oleh serangan lawan. Ketika menelusup, terjadilah benturan keras itu. Lutut Ramon mengenai dadanya.

Huda tampak kesakitan sambil memegangi bagian kepalanya. Tak lama setelah itu, ia tak sadarkan diri. Tim medis mencoba memberi pertolongan dan memberi bantuan pernapasan dengan tabung oksigen. Cepat-cepat Huda dilarikan ke rumah sakit.

Pihak rumah sakit tak bisa berbuat banyak. Tuhan punya rencana lain. Huda meninggal. Ia meninggalkan seorang istri dan dua anak laki-laki yang masih duduk di bangku SMP dan satunya masih SD.

Setelah kejadian ini, Huda layak menyandang gelar legenda Persela Lamongan. Sungguh, jika boleh dikatakan, tak ada yang melebihi kecintaan dan kesetiaan Huda pada klub berjuluk Joko Tingkir tersebut. Jika di belahan dunia ada nama Francesco Totti yang dikenang sebagai legenda AS Roma, Paolo Maldini sebagai legenda AC Milan, Choirul Huda pantas untuk disejajarkan dengan para pemain legendaris tersebut.

Perjalanan Huda bersama Persela

Dari awal hingga akhir hidupnya, Huda selalu setia membela Persela. Darah ‘biru’ mengalir dalam tubuhnya karena ia adalah La Mania sejati. Ia mengawali kariernya di dunia sepakbola  bersama klub lokal di Lamongan, Merpati. Kebetulan klub tersebut sering berlatih dan bermain di Stadion Surajaya yang kini menjadi markas besar Persela Lamongan. Ketika itu Huda masih berseragam putih-abu-abu (SMA).

Di atas lapangan itu, Huda tumbuh dan besar. Ia menjadi saksi ketika lapangan Surayaja belum layak disebut sebagai stadion. Ia merasakan bagaimana rasanya bermain di lapangan Surajaya yang sangat becek ketika hujan. Ia tahu bagaimana liarnya rumput-rumput di atas lapangan Surajaya. Ia merasakan sakitnya bermain di lapangan Surajaya yang permukaan tanahnya retak dan mengeras ketika musim kemarau datang.

”Saya sudah akrab dengan Surajaya sejak memasuki bangku SMA,” kenang Huda seperti kutipan dalam tulisan Aqilla F. S. berjudul ‘Kesetiaan Itu Bernama Choirul Huda’ yang dilandir PanditFootball.

”Surajaya adalah rumah saya,” ini juga pernyataan Huda.

Mula-mula Huda menjadi bagian dari Persela ketika klub yang berdiri sejak 1967 itu bangun dari ‘tidur panjang’. Ia tercatat sebagai pemain Persela sejak 1999.

Perjalanan panjang dan berliku dilalui Huda bersama Persela tanpa mengenal kata menyerah. Ia merasakan berbagai divisi dalam sistem sepakbola Indonesia yang pernah ada, mulai bermain di Divisi I, Divisi Utama. Pada 2007, Huda mengantarkan Persela promosi ke kasta tertinggi: Indonesia Super League.

Terlepas dari prestasi Persela yang memang kurang mentereng di panggung sepakbola Indonesia, namun Huda banyak memberikan sumbangan untuk klubnya tersebut.  Ia pernah menjuarai Piala Gubernur Jawa Timur lima kali. Adapun prestasi terbaik Huda bersama Persela di kasta tertinggi sepakbola Indonesia adalah ketika mengantarkan klub kebanggaan warga Lamongan tersebut finis di peringkat empat pada musim 2011/2012.

Penampilan individu penjaga gawang dengan tinggi 185 cm tersebut sempat membuat pelatih Timnas Indonesia, Alfred Riedl, meliriknya. Huda pernah mendapat panggilan ke timnas pada tahun 2014 ketika Indonesia akan menjalani babak Kualifikasi Piala Asia 2015 menghadapi Arab Saudi. Sayangnya, pria kelahiran 2 Juni 1979 tersebut tak mendapat waktu bermain.

Ketika nama Huda kian populer, ia pernah mendapat godaan untuk meninggalkan Persela. Banyak klub yang tertarik dengan bakatnya. Namun ia mengabaikan pilihan itu. Ia setia bersama Persela, selamanya. Bagi Huda, Persela sudah seperti keluarga sendiri. Wajar jika Huda akhirnya tercatat sebagai salah satu dari 50 pemain dunia yang setia membela satu klub. Dan selama  18 tahun bersama Persela, Huda tercatat telah menjalani sekitar 500 laga.

”Bersama Persela saya selalu dekat dengan keluarga. Selalu merasakan kebanggaan membawa nama kota tempat saya lahir. Dan itu pasti tidak akan saya dapatkan di tempat lain,” pernyataan Huda yang menegaskan betapa ia bahagia membela klub di tanah kelahirannya sendiri.

Doa untuk Choirul Huda

Menyadari bahwa Huda telah meninggalkan Persela untuk selamanya karena panggilan Tuhan, sungguh menjadi pukulan berat bagi kita semua. Beberapa saat setelah kabar kepergian Huda terdengar, air mata mengalir mengiringi kepergiannya. Doa-doa juga melantun dari rakyat Indonesia dan juga dari belahan dunia yang mencintai Huda.


Kepergian Huda menjadi pemberitaan internasional.  Sehingga, pemain Manchester United, Paul Pogba, pun turut mengirim doa untuk almarhum Huda: “RIP Choirul Huda. Doaku untukmu dan keluarga.”

FIFA juga ikut berduka atas kepergian Huda ini: “Berita tragis di Indonesia saat ini, setelah salah satu kiper populer Choirul Huda meninggal dunia setelah mengalami tabrakan di lapangan. Kami mengucapkan belasungkawa kepada keluarga Choirul dan klubnya dan fans di Indonesia.”

Sebelum kepergiannya, kesetiaan Huda pada Persela mendapat apresiasi dari pemerintah Lamongan dengan mengangkatnya sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS). Ia memang pantas mendapatkan penghargaan itu mengingat seluruh pengabdian dan prestasinya mengharumkan kota kelahiran.

“Sejak awal saya ada di sini, saya memang ingin mengabdikan hidup saya untuk Persela. Saya asli Lamongan, saya produk asli Persela, dan saya bangga bisa menjadi bagian dari tim ini. Semua demi Lamongan dan Persela,” kata mendiang Huda semasa hidupnya.

Cinta Huda pada Persela tersebut tak sebatas ucapan di bibir saja. Ucapan itu ia buktikan di atas lapangan hingga akhirnya ajal menjemputnya.

Selamat jalan, Kapten! Tak akan pernah ada lagi kiper nomor 1 di Persela. Tak ada sosok lain yang bisa menggantikanmu.

SUMBER : BOLANET

Written by 

Related posts

Leave a Comment