Search

Menggilai Kesempurnaan seperti Pep Guardiola

BABEBOLA.COM – Josep Guardiola Sala adalah pelatih yang menginginkan pertandingan berjalan persis seperti isi kepalanya.

Kendati Manchester City menang atas Crystal Palace (19/11/2016) dan Burnley (26/11/2016), Pep tetap ‘mengamuk’ di ruang ganti dan mengaku tak bisa tidur nyenyak beberapa hari setelah pertandingan itu berakhir. Dalam wawancaranya, ia menjelaskan bahwa timnya tak bertanding sesuai dengan kemauannya. Ia senang akan kemenangan timnya, tapi kesenangannya tak lengkap karena timnya tak bermain sesuai dengan yang ia mau.

Pep memang pribadi yang sangat intens menikmati kesempurnaan yang mewujud dalam permainan timnya. Intensitas itu dirasakan oleh semua pemain yang pernah ditanganinya: menjejali pemain dengan analisis video lengkap dengan informasi tentang statistik lawan, memenuhi atmosfer ruang ganti dengan pentingnya menjadi bagian dari tim, dan melindungi anak-anak asuhnya saat hendak menghadapi pertandingan.

Melindungi pemain bagi Pep tidak sekadar menggelar sesi latihan tertutup, supaya pihak-pihak yang tak berkepentingan tidak memasuki arena latihan. Baginya, bersikap protektif kepada pemain berarti melindungi pemain dari kesalahan sekecil apa pun. Contohnya, apa yang dilakukannya pada Raheem Sterling.

Pep tak meragukan kemampuan sepak bola Sterling. Ia bahkan berani bertaruh bahwa Sterling memenangi hampir seluruh pertandingan sepak bola jalanannya sebelum bergabung dengan klub profesional. Sterling di mata Pep adalah pemain berbakat. Hanya, bakatnya itu masih mentah.

Lantas, Pep menangani Sterling seorang diri. Yang ada di otak Pep, ia harus bisa mengubah Sterling menjadi pemain yang ia mau. Selama di Liverpool, Sterling terkenal sebagai pemain yang sering membuang-buang kesempatan. Bila sudah ada di dalam kotak penalti, ia memang akan menerima bola yang diumpan kepadanya. Sayangnya, bola ini diterimanya dengan posisi memunggungi gawang.

Bila posisinya seperti ini, maka ia harus menyentuh bola sebanyak-banyaknya. Sterling harus membalikkan badan dulu, bila tidak memungkinkan untuk menembak, maka ia harus mengumpan bola tadi ke wilayah sayap. Akibatnya, ia semakin jauh dari kesempatan mencetak gol

Yang dilakukannya adalah mengajarkan Sterling permainan efektif. Ia ingin Sterling menjadi pemain yang mengancam hanya dalam sekali atau dua kali sentuhan. Karena bagi Pep, efektif sama dengan produktif.

Yang harus sempurna bagi Pep tidak hanya pemainnya, tapi pemahaman Pep akan taktik dan pola permainan lawan. Itulah sebabnya, sebelum bertanding melawan suatu tim, ia akan menonton enam pertandingan terakhir lawan secara penuh. Seandainya City akan bertanding melawan Arsenal, maka hari-hari sebelum pertandingan itu akan diisinya dengan menonton enam pertandingan terakhir Arsenal.

Bagi Pep, taktik adalah perkara yang harus dipikirkan terus-menerus dengan serius, karena taktiklah yang menjadi jalan bagi timnya untuk memenangi pertandingan. Selalu ada potensi bagi setiap tim untuk melakoni pertandingan dengan cara yang berbeda. Itulah sebabnya, Pep tak hanya menonton satu atau dua rekaman pertandingan.

Ia gigih dalam mempelajari kelemahan dan kekuatan taktik lawannya di setiap pertandingan karena taktik tidak berdiri sendiri. Ia adalah hasil perkawinan kelemahan dan kelebihan tim. Bila ia sudah memahami kelemahan serta kelebihan lawan dan timnya sendiri, maka ia dapat menciptakan taktik yang dapat mengungguli taktik lawannya itu.

Pep bukan tipe pelatih yang akan memandang kalah dan menang sebagai kewajaran dalam sepak bola. Dalam kamus sepak bola Pep, tidak ada yang namanya dinamika. Baginya, kalah adalah perkara kesalahan, menang adalah perkara keunggulan. Itulah sebabnya, untuk hal-hal yang menyangkut di luar taktik sepak bola pun ia melakukannya dengan sempurna.

Karier Pep tak selamanya cemerlang. Tahun 2001 saat ia masih menjadi pesepak bola Brescia, ia tersandung kasus doping. Akibatnya, ia diganjar larangan bermain selama empat bulan. Pep tak pernah absen di pengadilan. Namun, di pengadilan itu pula, ia berkeras menyatakan bahwa ia tak bersalah. Menghadapi persidangan doping pun, ia menggunakan taktik.

Caranya, ia mendatangi laboratorium di enam negara berbeda, mempelajari hukum-hukum yang berkaitan dengan kasusnya secara mendetail. Pep bukan ahli hukum, tapi ia bersedia untuk mempelajari pasal demi pasal hanya demi menciptakan taktik yang dapat memenangkannya di persidangan. Dan delapan tahun setelahnya, kemenangan yang begitu diupayakannya menjadi milik Pep. Ia dibebaskan dari semua tuduhan.

Karier Pep adalah tentang kompetisi. Segala sesuatu yang dikerjakannya harus berakhir dengan kemenangan. Dan yang namanya kompetisi, ia harus dilakukan dengan bergegas, dengan secepat mungkin. Bagaimana Pep memperlakukan kariernya sebagai kompetisi dapat dilihat dari seperti apa ia memenangi gelar untuk klub-klub yang dilatihnya secepat mungkin.

Di musim pertamanya di Barcelona, ia mempersembahkan treble: La Liga, Copa del Rey, dan Liga Champions. Begitu pula dengan tahun pertamanya di Bayern Muenchen: gelar juara Bundesliga dan DFB-Pokal menjadi bagiannya.

Lantas, Premier League tidak demikian. Pep tidak memenangi apa pun di tahun pertamanya bersama Manchester City. Di Premier League, ada jarak yang cukup lebar antara alam pikir Pep yang begitu memuja kemenangan, kesempurnaan, dan keunggulan dengan realita.

Barangkali, itulah sebabnya, Pep tampil sebagai sosok yang lebih manusiawi saat berkarier di Premier League. Perhatikanlah wawancara-wawancara seusai atau jelang pertandingannya. Yang dibicarakan tak melulu tentang keunggulan taktik timnya. Yang ia bicarakan tak selalu menyoal kelebihan pemain ini dan itu.

Tak jarang Pep mengeluhkan keputusan wasit. Tak jarang pula ia mengeluhkan jadwal pertandingan. Ia bahkan pernah menyebut kondisi iklm sebagai hal yang menyulitkan timnya memenangi gelar juajra.

Di liga-liga sebelumnya, sangat jarang terdengar berita tentang Pep bertingkah ‘norak’ sebagai pelatih. Sementara di City, mulai dari mendorong manajer Wigan Athletic, perseteruannya dengan Jose Mourinho di ruang ganti (terlepas dari siapa pun yang memulai), hingga protes kerasnya kepada wasit saat City melawan Liverpool di perempat final Liga Champions yang berujung pada pengusiran oleh wasit.

Pep agaknya merupakan sosok yang membutuhkan tekanan untuk dapat bertahan hidup. Deretan prestasi dan pencapaiannya bersama Barcelona dan Bayern Muenchen seharusnya dapat menahan Pep sehingga bertahan lebih lama di klub itu. Namun, Pep malah memilih Inggris sebagai labuhan terbarunya.

Mustahil Pep tidak mengerti bahwa Premier League berbeda dengan liga-liga lainnya. Tidak mungkin Pep tidak tahu bahwa jumlah pertandingan di Premier League lebih banyak dibandingkan liga lainnya, atau bagaimana kondisi persaingan dan semuda apa klub yang tanganinya saat ini.

Pep tahu itu semua. Dalam sebuah wawancaranya, ia bahkan menyebut bahwa sejak awal, ia sadar pekerjaannya di City akan lebih berat. Sebabnya, klub ini belum punya nama besar seperti Barcelona dan Bayern Muenchen.

Bila City sedang ada dalam proses membangun kejayaannya, maka Pep menjadi salah satu orang yang bekerja di garda paling depan. Tantangan yang belum pernah ia terima di Barcelona dan Bayern Muenchen. Di kedua klub terdahulunya ini Pep tidak membangun kejayaan, ia hanya meneruskan dan memperbesar kejayaan.

“Memenangi gelar di Premier League jauh lebih sulit dibandingkan dengan liga-liga lainnya. Masalahnya ada banyak. Mulai dari fisik, kondisi iklim, hingga jumlah pertandingan. Apa-apa yang kami hadapi di sini membuktikan bahwa Premier League adalah liga yang sulit.”

Dari petikan wawancaranya itu, bolehlah kita menyimpulkan bahwa Pep sudah menang akan masalah-masalah tadi. Gelar juara City di Premier League tak hanya tentang menjuarai liga, tapi kemenangan Pep atas masalah fisik, iklim, hingga jumlah pertandingan. Menjadi juara di Premier League bukan hanya tentang menambah koleksi trofi, tetapi juga tentang kemenangan Pep atas tantangan-tantangan yang selama ini belum pernah dihadapinya.

Lantas, bila tantangan-tantangan tadi sudah dijawabnya dengan kemenangan, apalagi yang bisa membuatnya bertahan di City?

 

Sumber:

Written by 

Related posts

Leave a Comment