Search

Muslim AS Maafkan Pria yang Menggambar Logo Swastika di Masjid

Sejarah simbol Swastika (BBC/Steven Heller)

BabeBola , Alabama – Sebuah masjid di Fort Smith, Alabama, Amerika Serikat, dirusak oleh orang tak bertanggung jawab. Masjid bernama Al Salam itu dicorat-coret menggunakan cat semprot, kemudian pelaku menggambar lambang swastika di salah satu dinding masjid.

Tak hanya itu, ia juga menuliskan sejumlah kalimat bernada kebencian yang dinilai bisa menyinggung perasaan jemaah masjid. Namun, polisi kini telah menangkap pelaku aksi vandal tersebut.

Abraham Davis ditangkap pihak berwenang setelah terbukti melakukan vandalisme di masjid Al Salam. Dia melukis simbol swastika dan menuliskan “go home” (pulanglah) di sisi depan masjid pada bulan Oktober 2016.

Pihak masjid langsung melaporkannya ke kepolisian dengan membawa bukti berupa rekaman kamera keamanan masjid. Davis lalu dibekuk, dijatuhi hukuman penjara selama enam tahun dan denda sebesar US$ 1.700.

Akan tetapi, para pengurus besar masjid Al Salam justru memaafkannya. Mereka kasihan dan ingin meringankan hukuman Davis lantaran mengetahui keuangan tersangka sedang ‘seret’. Selain itu menurut mereka, hukuman penjara enam tahun terlalu berat.

“Kami mendengar bahwa dia (Davis) mengalami masalah keuangan. Sekarang jika dia tidak membayar denda, otomatis dia dipenjara selama enam tahun. Kami tidak ingin dia dipenjara selama itu,” ujar Presiden masjid Al Salam, Louay Nassri kepada NBC, seperti dikutip dari Independent, Selasa (2/1/2018).

Dana dari denda tersebut awalnya akan dialokasikan untuk renovasi masjid, namun Nassri mengurungkan niatnya.

“Seharusnya kami tidak bergantung padanya, sementara dia masih menjalani hidup dalam bui. Kami tahu dia melakukan sesuatu yang tak terpuji dan harus ada konsekuensi atas tindakan itu. Tapi kami tidak ingin berprasangka buruk secara terus-menerus kepada siapa pun,” ungkap Nassri.

Nassri mengatakan bahwa pihaknya telah memaafkan Davis.

“Kami pikir ini (memaafkan) adalah sesuatu yang sepatutnya dilakukan. Apabila seseorang berbuat salah, kemudian dia datang ke Anda dan meminta maaf secara langsung, maka Anda harus memaafkannya. Itu harus menjadi hal yang wajar,” kata Nassri.

Ujaran kebencian di Amerika Serikat melonjak dan memasuki puncaknya pada tahun 2016. Saat itu, Negeri Paman Sam tengah bergumul dengan kampanye presiden, yang salah satu kandidatnya (Donald Trump) menyatakan bahwa Islam berbahaya bagi Amerika.

Data yang dikumpulkan oleh Center for the Study of Hate and Extremism di California State University di San Bernardino menemukan bahwa ujaran kebencian di Amerika Serikat meningkat sekitar 5 persen dari tahun 2015 sampai 2016.

Apa Arti Lambang Swastika?

Di Barat, swastika identik dengan fasisme. Semua itu gara-gara bos Nazi Adolf Hilter yang ‘mencuri’ dan menyalahgunakannya. Padahal, selama ribuan tahun, lambang tersebut digunakan sebagai simbol keberuntungan hampir di setiap budaya di dunia.

Dalam Bahasa Sansekerta, swastika berarti “keselamatan atau kesejahteraan”. Merupakan salah satu simbol yang paling disucikan dalam tradisi Hindu. Juga Buddha dan Jain selama ribuan tahun.

Orang Barat pertama yang bepergian ke Asia, terinspirasi oleh sisi positif dan kaitannya dengan budaya kuno, dan mulai menggunakannya di kampung halaman. Pada awal Abad ke-20, muncul tren menggunakan swastika sebagai simbol keberuntungan.

Dalam bukunya, The Swastika: Symbol Beyond Redemption?, penulis desain grafis Steven Heller mengatakan, orang-orang Barat kala itu antusias menggunakannya sebagai motif arsitektural, di iklan-iklan, bahkan desain produk.

“Coca-Cola menggunakannya. Juga Carlsberg pada botol birnya. Pun dengan Boy Scouts (organisasi kepanduan semacam Pramuka), bahkan Girls’ Club of America menamakan majalahnya ‘Swastika’. Mereka bahkan mengirimkan lencana swastika kepada para pembaca muda sebagai hadiah,” kata Steven Heller, seperti dimuat BBC.

Lambang swastika juga digunakan unit militer AS selama Perang Dunia II. Juga bisa dilihat di pesawat-pesawat Royal Air Force (RAF) hingga tahun 1939. Simbol itu makin jarang digunakan pada tahun 1930-an saat Nazi naik ke tampuk kekuasaan di Jerman.

Written by 

Related posts

Leave a Comment