Search

PAN Pecah atau Dibelah?

Jakarta – Partai Amanat Nasional (PAN) terus bergejolak menjelang Pilpres 2019, mulai pengurus yang mbalelo dengan mendukung Joko Widodo(Jokowi), Bendum mundur, dan sekarang sejumlah pendiri mendesak Amien Rais mundur. Spekulasi-spekulasi bermunculan. Apakah PAN mengalami perpecahan atau ada pihak yang sengaja memecah belah?

Isu perpecahan dalam tubuh PAN sudah berembus sejak pasca-deklarasi dukungan PAN kepada Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Kala itu, Sekjen PAN Eddy Soeparno menyebut sejumlah calegnya enggan secara terang-terangan mengampanyekan pasangan nomor urut 02 itu. Meski kemudian pernyataan itu diluruskan oleh Eddy dengan mengatakan bahwa kader PAN all out mendukung Prabowo-Sandiaga. 

Beberapa bulan berlalu, pengurus dan kader PAN di daerah yang mbalelo tampak tampil satu persatu ke permukaan. Mereka memilih melabuhkan dukungan ke Jokowi-Ma’ruf dibandingkan mematuhi hasil Rakernas PAN tahun 2018. Alasannya, mereka enggan terpuruk dalam Pileg 2019 dan kinerja Jokowi dinilai patut diberikan acungan jempol.

an Desember ini, dua permasalahan internal kembali menerpa PAN. Bendum PAN, Nasrullah mundur dengan alasan tidak lagi cocok dengan manajemen partai. Kemudian, hari ini lima sikap pendiri partai semakin mengguncang internal berlambang matahari putih itu karena menulis surat terbuka kepada Amien Rais. Mereka meminta Amien mundur. 

Adalah Abdillah Toha, Albert Hasibuan, Goenawan Mohamad, Toeti Heraty, dan Zumrotin, yang mendesak Amien Rais untuk angkat kaki dari jagat perpolitikan maupun dari PAN. Desakan itu disampaikan melalui surat terbuka bertanggal hari ini, 26 Desember 2018. 

Alasannya, Amien selama ini dinilai telah melenceng dari prinsip pendirian partai berlambang matahari putih itu dan sebagai tokoh bangsa malah justru ikut mengeruhkan suasana dalam negeri. Selain itu, kelima tokoh itu juga menilai Ketua Dewan Kehormatan PAN itu terkesan berat mengestafetkan tongkat kepemimpinan PAN

“Untuk itu barangkali sudah saatnya Saudara mengundurkan diri dari kiprah politik praktis sehari-hari, menyerahkan PAN sepenuhnya ke tangan generasi penerus, dan menempatkan diri Saudara sebagai penjaga moral dan keadaban bangsa serta memberikan arah jangka panjang bagi kesejahteraan dan kemajuan negeri kita,” demikian tulis surat terbuka itu. 

Menyikapi surat terbuka dari para pendiri partai itu, elite-elite PAN berang. Mereka menyayangkan sikap kelima seniornya. Dugaan surat terbuka itu ditunggangi motif memecah belah hingga berkaitan dengan dukungan PAN dan Amien Rais kepada Prabowo-Sandiaga muncul. Dugaan itu sekaligus untuk menepis adanya perpecahan di dalam internal partai. 

“Tidak ada (perpecahan). Kalau soal dukungan (ke Jokowi) di Sumsel itu kan oknum, bukan pengurus. Ini kan makanya ada kok, rasanya PAN dikerjai dan dianiaya? Tapi di internal solid dari DPP PAN hingga ke bawah,” kata Waketum PAN, Viva Yoga Mauladi, kepada wartawan, Rabu (26/12/2018). 

“Kan ada kecenderungan yang tanda tangan itu pro-Jokowi semua itu. Yang tanda tangan itu rasanya punya kecenderungan pilihan politiknya di pemilu berbeda dengan Pak Amien,” imbuhnya. 
Sementara, Wasekjen PAN, Saleh Partaonan Daulay menegaskan partainya ‘baik-baik’ saja, bahkan tidak ada sedikitpun riak yang mengganggu ketenangan PAN. Sama seperti Viva, Saleh pun curiga ada dalang yang mencoba memecah belah di balik isu-isu yang selama ini menerpa partainya. 

“Ada dugaan terhadap upaya memecah belah partai. Tetapi karena kami solid, mungkin motifnya hanya untuk memecah konsentrasi dalam pemenangan di pilpres. Manuver begini mungkin dinilai bisa merusak basis, arah, dan strategi,” kata Saleh.

Mengetahui tudingan seolah mengarah ke kubunya, Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf buru-buru menepis. TKN enggan pihaknya kembali dijadikan kambing hitam atas gejolak yang mengguncang partai oposisi. Lagipula, tidak ada sedikit pun niat terbesit untuk mencampuri urusan internal parpol lain, apalagi oposisi.

“Kami nggak mencoba dan tidak menjadi watak kami, cara kami untuk memecah atau membuat strategi seperti itu, nggak. Apalagi itu yang menyatakan itu orang-orang yang terkenal intelektual, memiliki independensi seperti GM. Ya saya kira mereka tidak mudah untuk dimanfaatkan atau digunakan oleh kita. Nggak gampang memanfaatkan orang-orang sekaliber GM itu tidak gampang,” ujar Wakil Ketua TKN Jokowi-Ma’ruf, Abdul Kadir Karding, saat dihubungi. 

“Saya jamin tidak ada (campur tangan kami). Tapi bahwa itu akses dari politik bisa jadi iya. Kita rasional aja. Nggak ada kaitan dengan TKN. Capek ngurusin gitu-gitu. Nggak penting. Urusan orang nggak mau kita urus. Kita fokus memenangkan Jokowi-Ma’ruf,” tegasnya. 

Lantas, PAN memang pecah atau dibelah?

 

Sumber

Written by 

Related posts

Leave a Comment