Search

Pengungsi Ahmadiyah: Diculik dan dapat suaka di Inggris, diusir dari desa dan mengungsi di Indonesia

BABEBOLA – Dua penganut Ahmadiyah atau sering disebut Ahmadi dari dua negara yang berbeda mengalami krisis terburuk dalam hidup mereka, bahkan keselamatan jiwa mereka sampai terancam karena keyakinan mereka, tetapi kini menghadapi prospek hidup yang berbeda.

Syahidin bersama 32 kepala keluarga lainnya menempati Wisma Transito milik Kementerian Transmigrasi di Mataram, Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat selama 12 tahun terakhir sejak diusir oleh massa karena ia adalah Ahmadi, penganut aliran Islam yang dianggap sesat oleh umat Islam arus utama.

Sementara di Pakistan, pada bulan Oktober 2011, sekelompok pria memaksa dr Shah Muhammad Javid -yang juga merupakan Ahmadi- dan putranya keluar dari rumah untuk masuk ke dalam kotak besi di atas truk. Kini dia membangun hidup baru di Inggris.

Penolakan terhadap jemaah Ahmadiyah jauh lebih marak dan lebih formal di Pakistan, negara yang sempat menjadi pusat Ahmadiyah sebelum dipindahkan ke London, ibu kota Inggris, tahun 1984.

Persekusi dan ancaman pembunuhan kerap dialami oleh Ahmadi, terutama mereka yang memegang posisi penting di masyarakat dan pemerintahan, maupun mereka yang tergolong berada.

Berikut kisah pribadi Syahidin, penganut Ahmadiyah warna negara Indonesia, dan dr Shah Muhammad Javid, warga negara Pakistan.

Syahidin (48), pengungsi Ahmadiyah di tanah kelahiran

Bangunan mungil di tepi sawah nan hijau sedianya akan menjadi tempat bagi Syahidin untuk membesarkan empat anaknya. Menghadap area persawahan dan membelakangi ladang di Dusun Ketapang, Desa Gegerung, Kecamatan Lingsar, Lombok Barat, rumah BTN itu tampak ideal untuk ditinggali oleh sebuah keluarga.

Dari balik tembok ruang tamu dan kamar tidur, hamparan sawah tampak membentang luas. Pohon nangka mengayomi halaman dan bekas teras. Hanya saja rumah tersebut kini tinggal tembok dan sebagian atapnya.

“Kami baru menempati rumah ini sekitar satu tahun sebelum diusir. Pada waktu itu, massa merusak rumah, ada jam dinding diparang, pintu didobrak, jendela dirusak. Semua isi rumah dijarah, kusen pintu, kusen jendela diambil oleh orang-orang yang tidak suka terhadap kami,” ungkap Syahidin.

Protes di Jakarta

BAY ISMOYO/AFP/Getty
Kelompok garis keras Islam marak menggelar aksi demonstrasi pada pertengahan tahun 2000-an untuk menuntut pemerintah membubarkan Ahmadiyah.

Ditambahkannya sambil melakukan pengrusakan, massa melontarkan kata-kata yang dirasakannya provokatif, “‘Ambil saja harta orang Ahmadiyah karena mereka sesat’.”

Ia beserta anak dan istrinya serta puluhan tetangga menyaksikan harta mereka dirusak dan diambil dalam peristiwa penyerangan terhadap jemaah Ahmadiyah di Ketapang pada Februari 2006 silam.

Tidurkan anak

Syahidin belum tahu kapan impiannya untuk kembali menempati hak miliknya akan terwujud.

“Yang paling terkesan sampai sekarang, anak saya yang pertama waktu masih kecil selalu ingin ditidurkan di dekat jendela karena anginnya semilir.

“Dia selalu tidur nyenyak di sini. Jika ibunya pergi pun ia selalu tidur nyenyak asalkan di dekat jendela,” ungkap Syahidin sambil menunjukkan lokasi ranjang di bekas kamar tidurnya.

Kini, ia hanya bisa menengok rumah dan sawahnya di Dusun Ketapang, sekitar tiga kilometer dari lokasi pengungsiannya, sebab belum ada kebijakan konkret dari pemerintah setempat untuk memulihkan hak-hak pengungsi.

Di balik trauma yang dialami, Syahidin merasa beruntung krisis dalam hidupnya tak sampai menggoyahkan keyakinannya. Ditambah lagi putra pertamanya sedang menamatkan pendidikan tinggi. Untuk mencari nafkah guna menopang kehidupan keluarga, dia bekerja sebagai tukang ojek di Mataram.

Semula diperkirakan akan berada di tempat sementara itu untuk sebentar saja sebelum kembali ke desa mereka, Wisma Transito telah menjadi tempat transit bagi Syahidin dan 124 pengungsi Ahmadiyah selama 12 tahun terakhir.

Upaya untuk kembali menempati rumah mereka pernah dicoba oleh sebagian keluarga pada 2010 tetapi diusir lagi oleh massa dan kembalilah mereka ke Wisma Transito.

Dalam wawancara dengan BBC Indonesia, Bupati Lombok Barat, Fauzan Khalid, menandaskan bahwa masalah pengungsi Ahmadiyah ditangani secara paralel oleh pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, dan pemerintah kota.

Akan tetapi, menurutnya, sejak menjabat tahun 2016, ia belum pernah diundang guna merundingkan nasib pengungsi bersama kedua pejabat pemerintahan tersebut.

Dr Syah Muhammad Javid (60)

Pada suatu hari pada bulan Oktober 2011, Dr Shah Muhammad Javid berada di rumah bersama salah seorang putranya yang baru berusia 12 tahun. Sekelompok pria memaksa mereka keluar dari rumah dan masuk ke dalam kotak besi di atas truk.

Kendaraan itu pun melesat meninggalkan rumah bertingkat empat di Kotli Azad Kashmir, sekitar 120 km dari ibu kota Pakistan, Islamabad. Tanpa mengetahui motif dan tujuan perjalanan darat yang ditempuh selama tiga hari, pikiran dokter Shah berkecamuk.

Di tempat tujuan, ia baru tahu bahwa pihak yang menculiknya adalah Taliban, kelompok Islam garis keras yang berperang di Afghanistan dan juga beroperasi di Pakistan.

Satu tahun sebelum penculikan, Taliban mengaku berada di balik serangan ganda terhadap masjid Ahmadiyah di Lahore yang menyebabkan 93 orang meninggal dunia dan mengaku pula bertanggung jawab atas pembunuhan puluhan tokoh Ahmadiyah.

“Pemimpin Taliban mengatakan kepada saya bahwa satu-satunya alasan (penculikan) adalah ‘Anda kafir di mata kami dan bahkan di mata Allah Yang Maha Besar.

‘Jadi atas alasan itu, Anda diculik. Dan wajib bagi kami untuk membunuh Anda, menghabisi nyawa Anda, dan uang Anda pada saat yang sama sah bagi kami,'” kenang dr Shah mengutip pentolan Taliban yang menculiknya.

Uang tebusan dan uang jaminan

Selama dalam sekapan Taliban, ia dipisahkan dari putranya. Kawanan penculik, menurut dr Shah, mengancam akan menjual putra bungsunya. Sasaran berikutnya, adalah dirinya, seorang dokter terpandang yang menjadi pemimpin Ahmadiyah di Kota Kotli, wilayah Kashmir yang dikuasai Pakistan tersebut.

Awalnya diculik atas dasar keyakinannya, sang penyekap ternyata menuntut tebusan. Sekalipun ia seorang dokter dan bahkan mengoperasikan rumah sakit sendiri, harta benda yang dimiliki tak bakalan cukup memenuhi tuntutan untuk menyelamatkan nyawa ayah dan anak itu.

Maka keluarga besar dokter Shah menggalang dana dari berbagai pinjaman dan juga hasil penjualan harta benda. Hasilnya, terkumpul uang tunai 15.000.000 rupee atau sekitar Rp1,5 miliar, lebih sedikit dibanding tuntutan semula. Keduanya dibebaskan empat bulan setelah penculikan.

Karena jumlah uang tebusan masih kurang dari tuntutan Taliban, maka saudara-saudaranya terus ditagih untuk menggenapi tebusan.

Di samping tagihan uang, dr Shah mengaku terus menerus diteror oleh Taliban sekalipun sudah dibebaskan.

“Mereka tidak hanya mengancam saya jika saya tidak bekerja sama, mereka juga mengirim lima pesan sangat berbahaya bagi seluruh jemaah Ahmadiyah.

“Salah satunya, komunitas Ahmadiyah harus membayar US$100.000 (sekitar Rp1,3 miliar) setiap bulan sebagai jaminan jika mereka ingin tetap tinggal di Pakistan,” paparnya.

Pesan itu harus ia sampaikan kepada pemimpin spiritual Ahmadiyah yang berkedudukan di London.

Diancam akan dibunuh

Ancaman kedua, lanjut dokter Shah, semua pemuka Ahmadiyah terkemuka di Pakistan akan dibunuh satu per satu, termasuk dirinya yang berada di urutan kedua setelah seorang dokter setingkatnya sudah dibunuh di dekat Karachi.

“Mereka meminta saya memberikan daftar orang-orang terkemuka dan menggambar denah kantor pusat Jemaah Ahmadiyah Pakistan di Rabwah sehingga mereka dapat merancang serangan.”

Markas Ahmadiyah di Rabwah, Pakistan

Reuters
Dokter Shah mengaku dituntut menggambar denah kantor pusat Ahmadiyah Pakistan yang terletak di Rabwah ini.

Yang lain, komunitas Ahmadiyah dituntut menghentikan seluruh kegiatan dakwah dan sosial di mana pun di wilayah Pakistan.

Sebagai pemimpin Ahmadiyah setempat dan sebagai dokter terkenal, dokter Shah tak menampik jika ia berusaha mengajak orang-orang untuk masuk ke dalam aliran yang diyakininya.

“Dengan rahmat Allah, dan berkat dakwah saya serta dakwah orang-orang Ahmadi lainnya, banyak keluarga dari Islam arus utama berpindah ke Ahmadiyah. Hal ini sama sekali tak bisa diterima oleh mereka,” jelasnya.

“Kalau tidak membunuh saya, mereka memaksa saya melarikan diri dari Pakistan.”

Ia beserta istri dan keempat anak mereka memilih melarikan diri dari tanah air. Tujuannya, Inggris.

Di masa kritis dan dalam situasi yang kritis pula, dokter Shah merasa beruntung sebab pemerintah Inggris bersedia menampung dan memberikan perlindungan tanpa pandang bulu.

“Begitu kami diberi status pencari suaka, saya mulai berjuang untuk bisa kembali menjadi dokter.

“Saya berniat mengembalikan budi kepada pemerintah di sini yang telah memberikan perlindungan kepada saya dan keluarga saya sehingga semua anak-anak saya sudah bisa bersekolah lagi,” tutur dokter Shah dalam wawancara khusus dengan BBC Indonesia di kediamannya di Harrow-on-the Hill, London barat laut, pertengahan Januari lalu.

Kuliah bersama mahasiswa sebaya anak-anaknya

Dan, ditambahkannya, sebagaimana dianjurkan oleh ajaran Islam, ia turut aktif dalam kegiatan kemanusiaan di negara yang telah mengadopsinya.

“Saya juga ikut serta dalam acara poppy appeal (penggalangan dana Legiun Veteran Inggris) selama beberapa hari pada bulan November lalu di Bandara Heathrow,” ungkapnya.

Untuk dapat berpraktik sebagai dokter di Inggris, ia harus kuliah lagi dan mengikuti ujian penyetaraan standar kedokteran Inggris. Sejauh ini, ia sudah menuntaskan satu ujian dan tengah mempersiapkan ujian terakhir bulan Februari ini.

“Saya tidak hanya harus duduk bersama mahasiswa kedokteran yang usianya sama dengan usia anak-anak saya, tapi harus mempelajari materi yang sudah saya pelajari 35 tahun lalu di Pakistan.”

Rumah sakit

WILL OLIVER/EPA
Dokter lulusan luar Inggris diharuskan mengikuti program penyetaraan agar dapat berpraktek di negara itu.

Tak hanya itu. Untuk membiasakan diri dengan sistem Pelayanan Kesehatan Nasional Inggris (NHS) ia pernah menjadi relawan di sebuah rumah sakit sebagai pendamping pasien dan sementara ini menempati posisi rendah sebagai asisten dokter di sebuah rumah sakit di London pusat.

“Terus terang ini sangat memilukan untuk memulai dari awal lagi,” papar dokter Shah namun ia menandaskan tidak pernah kehilangan jati diri dalam mengatasi krisis dan semangat untuk terus berjuang.

Bagaimanapun ia kembali menekankan dirinya tergolong beruntung mendapat perlindungan di Inggris dan sekaligus mujur karena bebas menjalankan keyakinannya.

Bahkan sekali seminggu ia mengadakan siar agama di sebuah stasiun kereta bawah tanah di dekat rumahnya disertai dengan pembagian buku-buku tentang Islam kepada khalayak ramai.

Diakuinya meskipun negara dan pemerintah Inggris menjamin kebebasan menjalankan keyakinan dan bebas pula menyebarkannya, Inggris ‘tak sepenuhnya menawarkan surga’.

Pasalnya, ia terkadang menjumpai sesama Muslim di London berprasangka buruk terhadapnya dan bahkan ada yang menganggapnya bukan Muslim.

Ia lantas memberikan contoh pembunuhan Asad Shah, seorang Muslim Ahmadi di Glasgow, Skotlandia, yang dibunuh pada 2016 oleh Muslim Sunni dengan motif agama.

Namun, ringkasnya, persekusi yang terjadi di negara asalnya, Pakistan, tak bisa dibandingkan dengan skala kecil permusuhan berlatar belakang agama yang mungkin timbul di Inggris.

“Keindahan dari pranata hukum di sini adalah tidak diberikan ruang bagi permusuhan dan diskriminasi. Apapun agama kita, kita diperlakukan sama.”

Written by 

Related posts

Leave a Comment