Search

Penjual Gula Aren itu Pernah Kuliah di ITB, Mengharukan, Ternyata Ini Penyebab Dia Drop Out

BABEBOLA – Bila berada di bawah, maka lihatlah ke bawah, karena bisa jadi masih ada orang yang lebih tidak beruntung dibanding anda.

Kisah Muhamad Izhak (22), pemuda asal Polewali Mandar, Sulawesi Barat ini bisa menggambarkan hal tersebut.

Kisah Izhak, yang berhenti kuliah di ITB karena menjaga adik-adiknya, menjadi viral di media sosial.

Muhamad Izhak adalah seorang mahasiswa jurusan Teknik Kimia Institut Teknologi Bandung.

Dia sekarang telah berhenti kuliah dan kembali ke kampungnya.

Rumah Izhak berada di dusun Tojangang, desa Pasiang, Polewali Mandar, Sulawesi Barat.

Rumah sederhana itu berbentuk panggung yang terbuat dari kayu-kayu yang sudah terlihat lapuk dan ringkih.

Di rumah itulah Izhak dan ke-sembilan adiknya tinggal bersama.

Izhak sebelumnya sudah menempuh 4 semester di ITB sebelum memutuskan untuk kembali ke kampung halaman.

Ia pulang ke kampungnya pada Februari 2017 saat libur semester karena sang ibu menjalani operasi pengangkatan tumor rekum (tumor pada usus besar).

Saat ibunya masih hidup, ibunya berpesan pada Izhak bahwa dia harus kembali ke Bandung dan menyelesaikan kuliahnya.

Nahas tidak dapat ditolak, ibunya meninggal pada Februari itu juga.

Izhak kemudian menunda untuk kembali ke Bandung karena pada saat yang bersamaan, ayahnya juga tengah sakit TBC yang cukup parah.

Izhak resmi berhenti dari ITB sejak bulan April 2017 dan fokus membantu sang ayah merawat adik-adiknya yang berjumlah 9 orang.

Nasib tidak berpihak pada Izhak, pertengahan November lalu, sang ayah juga meninggal.

Ayah Izhak meninggal setelah menderita TBC kronis.

Saat ini, sehari-hari Izhak fokus untuk menjaga dan merawat adik-adiknya.

Adiknya berjumlah 9 orang, yang paling besar juga sudah kuliah sementara yang paling kecil baru berusia 19 bulan.

Jumlah adiknya yang bersekolah ada 6 orang mulai dari jenjang SMP hingga TK.

Tetangga Izhak banyak yang datang berkunjung dan memberi sedikit bantuan untuk keluarga itu.

Sementara untuk membantu memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, Izhak dan adik-adiknya berjualan gula merah.

Gula merah itu dibuat dari getah pohon aren yang tumbuh di kebun milik keluarga Izhak dan diolah di bagian bawah rumah panggung tua itu.

Dalam lima hari, Izhak bisa menjual 20 bungkus gula aren dengan harga Rp6 ribu per bungkus.

Meski pendapatannya cukup kecil, hanya itu yang bisa dia lakukan.

Sebab, Izhak tidak mungkin pergi jauh ke kota untuk mencari pekerjaan karena adiknya yang paling kecil tidak mungkin dia tinggalkan.

Sejak kisahnya viral di media sosial, banyak sekali petugas dari dinas-dinas setempat yang datang untuk memberi bantuan.

Dari dinas sosial, Izhak mendapat bantuan program Harapan Keluarga yang membantu masalah ekonominya, dan bantuan KJP untuk adik-adiknya bersekolah.

Pihak ITB, bahkan wakil rektor ITB juga berkenan membantu jika Izhak ingin meneruskan kuliahnya di ITB, maupun memberi rekomendasi jika Izhak memilih berkuliah di tempat lain.

“Pak Hatta Rajasa juga menghubungi saya, beliau bilang akan membantu saya untuk kembali kuliah jika saya berkenan,” kata Izhak.

Hatta Rajasa menawarkan pada Izhak beberapa opsi.

Jika Izhak ingin kuliah lagi, maka dia akan dibantu supaya bisa kembali berkuliah.

Atau, bila berhenti kuliah dan buat usaha di bidang air minum, maka bantuan alatnya akan dikirim dari Jakarta.

Baru-baru ini, Universitas Terbuka di Majene juga telah memberi kepastian bantuan untuk Izhak, kuliah gratis di UT selama 8 semester.

Hanya satu yang masih memberatkan langkah Izhak, yaitu siapa yang akan menjaga adik-adiknya jika ia kembali kuliah.

“Saya tidak ingin kembali ke ITB, karena jaraknya jauh dari rumah,”

“Saya kesulitan mengikuti pelajaran setelah sebelumnya sempat berhenti kuliah,”

“Mungkin saya akan kuliah lagi saat adik-adik saya sudah cukup besar untuk merawat diri mereka sendiri,” begitu kata Izhak.

Izhak tengah mengemban tugas yang berat dengan menjadi ibu sekaligus ayah bagi seluruh adiknya.

Saat adiknya ada yang sakit, Izhak menjaga mereka dan membawanya berobat ke Puskesmas.

Izhak juga harus pergi ke pasar untuk menjual gula aren buatannya.

Dia hanya bisa tetap mensyukuri hidupnya dan segala ujian yang dihadapinya.

Bagi Izhak, yang terpenting saat ini adalah kesehatan dan kelayakan hidup adik-adiknya.

 

 

 

 

 

SUMBER

Written by 

Related posts

Leave a Comment