Search

PSSI Buka Suara terkait Ditangkapnya Wasit Liga 3

Satuan Tugas (Satgas) Antimafia Bola kembali menelurkan putusan baru. Teraktual, satuan bentukan Kepolisian Republik Indonesia ini menetapkan satu tersangka baru terkait kasus pengaturan skor. 

Adalah Nurul Safarid. Pria yang berprofesi sebagai wasit di Liga 3 ini didakwa bersalah karena ikut terlibat pengaturan skor saat memimpin pertandingan leg II Liga 3 Zona Jawa Timur antara tuan rumah Persibara Banjarnegara vs Persekabpas Pasuruan di Stadion Soemitro Kolopaking pada 16 Oktober 2018. Ketika itu, Persibara menang dengan skor telak 3-0 setelah kalah 2-3 pada leg pertama. 

Nurul ditangkap saat berada di Garut, Jawa Barat, pada Senin (7/1) kemarin. Menurutnya, sebelum pertandingan Persibara melawan Persekabpas, Nurul menggelar pertemuan di Hotel Central Banjarnegara dengan Priyanto, anggota Komite Eksekutif (Exco) PSSI Johar Lin Eng, Mbah Putih, Anik Yuni Artika Sari, serta dua asisten wasit, dan seorang wasit cadangan. Nurul diketahui menerima uang sebesar Rp 45 juta.

Atas temuan tersebut, Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) mengapresiasi tindakan cepat yang dilakukan. PSSI juga bakal menyerahkan persoalan hukuman pada pihak yang berwenang.

”Setiap hal yang berkaitan dengan hukum positif yang harus ditegakan oleh kepolisian, PSSI menghargai hal tersebut. Ikuti proses hukumnya dengan baik, baik mengenai hukum individu per individu,” ujar Sekjen PSSI Ratu Tisha Destria di Hotel Sultan, Senayan, Jakarta Pusat, Senin (8/1/2018).

Persoalan wasit yang ikut main dalam pengaturan skor sejatinya memang sudah terendus beberapa waktu lalu. Ketika itu, manajer Persibara, Lasmi Indriani, buka-bukaan di acara ‘Mata Najwa’ lewat tema PSSI Bisa Apa Jilid II dengan membongkar borok wasit yang menerima suap untuk mengatur pertandingan.

Tisha mengatakan pihaknya selama ini telah berupaya untuk menjaga kualitas wasit. Evaluasi secara berkala pun dilakukan pihaknya setiap seorang wasit tersebut memimpin pertandingan.

”Mekanisme untuk penugasan wasit bermula dari evaluasi selepas pertandingan. Evaluasi itu dilakukan secara teknis. Contoh, ketika melakukan kesalahan, kemudian dievaluasi, dan dipertanyakan mengapa melakukan kesalahan dalam mengambil keputusan. Bisa kami bilang evaluasinya sangat mendetail,” ucap Tisha.  

Menurutnya, PSSI melibatkan tiga pihak untuk melakukan evaluasi terhadap kinerja dari sang pengadil lapangan hijau. Pertama, referee assessor di lapangan atau remote videodi lapangan melalui tayangan ulang. Kedua, referee technical director dari PSSI, dan yang ketiga ialah pihak Federasi Sepak Bola Jepang (JFA) yang melakukan evaluasi melalui video yang dikirimkan. 

Setelah ketiga elemen ini mengevaluasi, lanjut Tisha, hasilnya akan diberikan kepada Komite Wasit PSSI pada setiap pekannya untuk dibuatkan ranking. 

”Mana yang paling terbaik dan mana yang paling buruk. Nilai antara keduanya, tentu pasti ada karena ada penilaian. Nah, dari ranking yang ada, kemudian dicocokkan untuk si wasit ini kembali bertugas dan akan dilihat tingkat kesulitan pertandingan,” ucapnya.  

”Contoh tingkat kesulitan pertandingan itu adalah pertandingan dengan tempo cepat, insentitasnya tinggi, dan mesti dipilihlah wasit yang memiliki rengking serta integritas pengalaman yang tinggi maka itu yang dipilih. Itu mekanisme umum penugasan wasit di Indonesia maupun dunia,” pungkasnya.

 

 

Artikel Asli

Written by 

Related posts

Leave a Comment