Search

Rupiah Melemah Apa Penyebabnya?

BABEBOLA.COM – Petugas memeriksa tumpukan uang Rupiah di Cash Center Bank Mandiri, Jakarta, Rabu (18/4/2018). Faktor global dan dalam negeri membuat Rupiah jatuh ke titik terendah dalam 2 tahun ini.

Nilai tukar Rupiah terhadap US Dolar mencapai titik terendah dalam 2 tahun ini. Senin (23/4/2018), menurut kurs referensi dari Bank Indonesia alias Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR), Rupiah dipatok di level 18.894 per dolarnya.

Sedangkan menurut catatan Bloomberg, Rupiah hari ini dibuka di level Rp13.908 per dolarnya. Pada perdagangan hari ini Rupiah bergerak di kisaran 13.886-13.915.

Penyebab utama yang dituding melemahkan Rupiah adalah ekspektasi pelaku pasar terhadap kenaikan suku bunga acuan The Federal Reserve alias bank sentral Amerika Serikat.

Deputi Gubernur Bank Indonesia, Dody Budi Waluyo menjelaskan, faktor global masih menjadi pemicu lemahnya Rupiah. Salah satunya akibat sentimen pasar terhadap kenaikan Fed Fund Rate (FFR) yang tahun ini kemungkinan akan naik lebih dari tiga kali.

“Itu sudah diantisipasi dan sudah masuk dalam kalkulasi kita kenaikan FFR naik tiga kali di tahun ini. Risiko bisa menjadi empat kali,” kata dia seperti dikutip dari Viva.co.id, Jumat (20/4/2018).

Ekonom Samuel Sekuritas, Lana Soelistianingsih mengatakan, faktor lain yang berpengaruh ialah perang dagang (trade war) antara Tiongkok dan Amerika Serikat, yang menimbulkan ketidakpastian. Sehingga, para investor mencari instrumen investasi yang dianggap aman. Salah satunya US dolar.

“Kalau orang nggak yakin, yang diambil investor biasanya posisi cash,” kata dia kepada detikFinance, di Jakarta, Minggu (22/4/2018). Sehingga permintaan dolar tinggi.

Harga Minyak Dunia

Faktor lain ialah kenaikan harga minyak mentah dunia. Naiknya harga minyak mentah berjangka jenis Brent dan West Texas Intermediate (WTI) mencapai nilai tertinggi dalam 3 tahun ini. Sebabnya, besarnya permintaan dari negara-negara Asia, khususnya Tiongkok.

Tiongkok diperkirakan membeli minyak 9 juta barel per hari atau setara 10 persen konsumsi global.

Jika harga minyak naik, memicu permintaan dolar jadi lebih tinggi. Karena Indonesia sendiri masih mengimpor minyak. Pertamina dan PLN, yan juga pengimpor minyak, tentu butuh dolar.

“Ini yang kemudian menambah dari dalam negeri memang ada faktor juga, di mana permintaan dalam negeri meningkat,” ujar Lana.

Musim Pembagian Dividen

Saat ini, perusahaan terbuka sedang ramai-ramainya membagikan dividen. Beberapa perusahaan asing yang melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) juga membutuhkan dolar. Karena untuk mengirim dividen ke kantor pusat mereka, tak menggunakan Rupiah, tapi dolar.

“Misal Unilever, Unilever kan perusahaan asing dia harus mengirim profitnya ke kantor pusatnya ke Belanda. Kirimnya pakai apa, pakai dolar,” kata Lana.

Bukan hanya itu, permintaan akan dolar juga meningkat karena pemerintah juga membayar kupon surat utang kepada asing yang dibayarkan setahun 2 kali. “Jadi memang ada permintaan,” ujarnya.

Namun menurut penilaian Lana, pelemahan rupiah tidak berkaitan dengan kondisi fundamental Tanah Air. Kondisi ekonomi negara masih cukup baik.

“Rupiah kita pernah tembus Rp14.600 di 2016, fundamental engga apa-apa tuh,” ujarnya seperti dikutip dari Kompas.com.

Menurut dia, selama depresiasi Rupiah masih wajar, pemerintah tidak perlu bertindak. Hanya saja, BI diminta untuk tetap menjaga pasar, sekaligus memastikan kapan waktu yang tepat untuk intervensi.

Dody menegaskan, BI akan tetap terus berada di pasar keuangan untuk menstabilkan nilai tukar Rupiah. Mereka akan tetap menggunakan instrumen yang sudah digunakan saat ini

 

Sumber:

Written by 

Related posts

Leave a Comment