Search

Sebuah Rekam Jejak di Tanah Marapu, Sumba, NTT

Sumba adalah sebuah pulau di Provinsi Nusa Tenggara Timur yang sebelah timurnya berbatasan langsung dengan Negara Timor Leste. Dewasa ini, Sumba tengah naik daun lantaran sudah mulai banyak potensi keindahan alamnya yang dikelola sebagai objek wisata

Pemandangan yang eksotis disuguhkan dengan kearifan lokal, membuat Sumba memiliki nilai plus tersendiri sebagai salah satu destinasi wisata di Indonesia yang wajib dikunjungi. 

Menurut Wikipedia (2018), Pulau Sumba terbagi atas 4 Kabupaten; yakni Kabupaten Sumba Barat Daya, Sumba Barat, Sumba Tengah dan Sumba Timur. Menurut berbagai sumber, filosofi terbentuknya Pulau Sumba sendiri, yaitu bahwa Sumba dahulunya adalah batu karang di dasar laut yang kemudian terangkat ke daratan akibat dari pergeseran lempeng bumi. 

Pulau Sumba sendiri juga terkenal dengan sebutannya sebagai Tanah Marapu, yang artinya kurang lebih adalah Tanah milik nenek moyang/ leluhur. Menurut masyarakat setempat, Marapu merupakan kepercayaan memuja roh para leluhur yang dianut oleh lebih dari setengah masyarakat Sumba. 

Tidak hanya itu, Sumba ternyata memiliki 1 buah Taman Nasional, yaitu Taman Nasional Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti yang dapat disingkat menjadi TN Matalawa. Taman Nasional ini, awalnya merupakan gabungan dari 2 wilayah Taman Nasional.  

Pada Bulan Agustus tahun 2017 lalu, saya berkesempatan untuk mengikuti salah satu kegiatan yang diselenggarakan oleh TN Matalawa; yaitu Birding and Photo Competition. Perlombaan ini adalah perlombaan Birdwatching atau mengamati burung serta lomba fotografi alam dan manusia. 

Untuk para naturalist, mendengar istilah Birdwatching mungkin sudah tidak asing lagi, Birdwatching adalah kegiatan mengamati jenis-jenis burung di suatu tempat, kemudian melakukan identifikasi secara morfologi menggunakan buku panduan lapangan pengamatan burung. 

Pada perlombaan ini, peserta Birdwatching juga ditantang untuk menggambar sketsa tentang jenis burung yang ditemui lalu dideskripsikan sedetail mungkin tentang tempat di mana ditemukannya, ciri-ciri khususnya hingga nama ilmiahnya. 

Menurut saya, hal yang paling menantang dalam kegiatan Birdwatching adalah jikalau harus mengidentifikasi burung yang hinggap di cabang pohon tinggi dan kemudian saat difoto, hasilnya backlight. 

Maka dari itu, dibutuhkan skill khusus untuk fotografi identifikasi burung dan tentunya perlu didukung juga dengan lensa kamera yang memadai, seperti lensa tele. 

Dalam kegiatan tersebut, tentunya juga dihadiri oleh juri-juri ternama di bidangnya; seperti Arbain Rambey, Riza Marlon dan Didi Kaspi Kasim sebagai juri lomba Fotografi. Sementara Dr. Karyadi Baskoro, Imam Taufiqurahman dan Swis Winasis sebagai juri lomba Birdwatching.

Beberapa spot destinasi wisata yang saya kunjungi pada saat kegiatan tersebut sangat-sangat membuat saya berdecak kagum dengan Sumba dan membuat saya rindu ingin kembali ke sana suatu hari nanti. Destinasi pertama yang saya kunjungi yaitu Bukit Wairinding, sebuah bukit yang sudah sangat terkenal dikalangan wisatawan. 

Bukit Wairinding
Bukit Wairinding

Bukit ini begitu luas dan terhampar savana sejauh mata memandang, cahaya mentari yang menyinari bukit tersebut membuat punggung-punggung bukit memunculkan cahaya keemasan. 

Pemandangan yang eksotis itu ditambah dengan kehadiran kuda khas Sumba yang tengah berkeliaran memakan rerumputan yang ada di bukit serta kehadiran masyarakat tradisional Sumba yang menambah kehangatan Bukit Wairinding. 

Ada banyak sekali anak-anak yang akan menemanimu saat menikmati pemandnagan di Bukit Wairinding, mereka kebanyakan sangat pemalu dengan wisatawan, namun tidak ada salahnya jika kita menyapa dan mengajak mereka berbincang-bincang. 

Dari Bukit Wairinding menuju ke Sumba Timur yaitu ke destinasi selanjutnya, TN Matalawa ditempuh menggunakan truk yang sudah dimodifikais seperti angkutan dalam waktu 6 jam perjalanan. 

Percayalah kawan, 6 jam tersebut sangat berkesan bagi saya pribadi, karena sejauh mata memandang di kanan kiri saya terpampang sebuah pemandangan bukit savana yang eksotis. Sesampainya hendak memasuki kawasan TN Matalawa, kita akan masuk ke sebuah pedesaan yang masih memiliki rumah adat khas Sumba. 

Pada saat memasuki desa inilah yang membuat pengalaman saya di Sumba merasa sangat spesial, saya melihat banyak sekali anak-anak SD sedang pulang sekolah, saya melihat wajahnya satu persatu. Mereka semua riang gembira menyambut wisatwan yang datang, sesekali mereka melakukan “Tos” dengan wisatawan, termasuk saya. 

Melihat hal tersebut saya menjadi snagat bersyukur dengan pendidikan yang selama ini saya dapatkan, saya sekaligus berharap agar suatu hari nanti kualitas pendidikan di Indonesia dapat merata dengan baik, saya ingin anak-anak tersebut juga memiliki mimpi dan dapat mewujudkan mimpi-mimpinya.

Sesampainya di TN Matalawa, kami bermalam di sebuah camp area yang letaknya tak kalah menakjubkan, kami berada di lembah dengan sekeliling kami adalah bukit-bukit, benar-benar menakjubkan. Hal yang paling membuat saya terkesima adalah pada saat malam hari saya dapat melihat jutaan gugusan bintang dengan jelas dan bahkan milky way dengan jelas tanpa alat bantu apapun.

Taman Nasional Matalawa
Taman Nasional Matalawa

Destinasi-destinasi wisata yang tak kalah serunya yang sempat saya kunjungi yaitu, Air Terjun Laputi yang seperti muncul di sela-sela bukit yang rimbun akan pepohonan, Danau Laputi dengan fauna uniknya yaitu “Apu”, serta Pantai Tarimbang dimana pasir pantainya sangat putih, ombaknya bagus dan semuanya terlihat sangat eksotis di mata saya. 

Pantai Tarimbang
Pantai Tarimbang

Selain destinasi wisata alam, saya pun juga mengunjungi Desa Adat Pariliu, di mana masyarakat lokalnya sebagian besar bermata pencaharian sebagai penenun kain. 

Kain tenun khas Sumba ini sungguh cantik dan elok, namun kalian harus mempersiapkan dana yang tidak sedikit untuk membeli kain ini, yang harganya bisa berkisar antara ratusan ribu hingga jutaan rupiah. 

Kain Tenun Sumba
Kain Tenun Sumba

Saya sangat mengapresiasi karya yang telah dibuat oleh para pengrajin dan menurut saya harga menetukan kualitas, karena teknik pembuatan tenun yang sulit hingga berubulan-bulan lamanya dan penggunaan pewarna alami dari tumbuh-tumbuhan membuat kain tenun khas Sumba menjadi salah satu item oleh-oleh yang tidak boleh dilewatkan saat mengunjungi Sumba.

 

Sumber

Written by 

Related posts

Leave a Comment