Search

Transplantasi Hati Butuh Biaya Rp 500 Juta Lebih, ”Saya Rela Menukar Hati Ini, untuk Anakku”

BABEBOLA Yuda Adi Pradana (6), terbaring lemah di kamarnya. Wajahnya terus meringis menahan sakit pada perutnya.

Sesekali bocah kelas satu Madrasah Ibtidaiyah (MI) itu duduk dan meminta minum. Sang ibu, Anik Umi Ati (32) yang setia menungguinya lalu mengambilkan air minum. Dengan penuh perhatian, ia terus menghibur dan memberi semangat.

Ya, Yuda yang tinggal di Desa Jatisono RT 5 RW 1 Kecamatan Gajah, Kabupaten Demak, Jateng ini, didiagnosis menderita batu empedu dan kista hati.

Sejak merasakan sakit dua tahun lalu, berat badan putra kedua pasangan Anik Umi Ati dan Toso Rokhim (34) ini terus menurun. Saat ini, berat badannya hanya 16 kilogram. Padahal, berat badan ideal anak seusianya di atas 20 kilogram.

“Yuda mulai merasakan sakit sejak 2 tahun lalu. Awalnya hanya mules saja. Lama kelamaan perutnya malah semakin membesar. Baru terdeteksi kista hati sejak satu tahun ini. Dulunya gendut, sekarang anaknya kurus, Mas,” kata Umi kepada Kompas.com di rumahnya, Kamis (14/12/2017).

Sambil berkaca-kaca, Umi menceritakan berbagai upaya yang telah dilakukan keluarga untuk kesembuhan Yuda. Bahkan ia dan suaminya puluhan kali keluar masuk rumah sakit membawa Yuda untuk menjalani perawatan medis.

“Yuda sudah dua kali operasi pembersihan hati. Enam kali rawat inap dan 60 kali rawat jalan di Rumah Sakit Kariadi Semarang,” tuturnya.

Karena sakitnya itu, pihak Rumah Sakit Kariadi tidak sanggup melakukan tindakan lebih lanjut kepada Yuda. Bocah ini harus dirujuk ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta.

Namun karena keterbatasan biaya, hingga kini, kedua orangtua Yuda belum bisa membawanya ke Jakarta. Penghasilan suaminya sebagai seorang sopir tak cukup membiaya operasi tranplantasi hari yang bisa menghabiskan dana ratusan juta rupiah.

“Untuk transplantasi hati, setidaknya butuh biaya Rp 500 juta lebih. Saya rela menukar hati ini, untuk anakku,” ucap Umi terbata-bata.

Mendengar kabar ada warganya yang menderita kista hati, Bupati Demak M Natsir langsung tergerak hatinya. Orang nomor satu di Kota Wali itu, langsung mengunjungi kediaman Yuda, bersama jajarannya dan Ketua Baznas Kabupaten Demak, Bambang Susetyarto.

Bupati Natsir mengajak Yuda berbincang tentang keadaannya dan menghiburnya. Apalagi semenjak sakit yang dideritanya itu, Yuda sudah tidak pernah berangkat sekolah dan hanya sesekali keluar rumah apabila merasa bosan karena terus berada di dalam kamar.

“Perutnya sakit. Bosen. Kangen sekolah,” kata Yuda lirih ketika ditanya Bupati Natsir.

Bupati Natsir berjanji akan menanggung semua biaya pengobatan Yuda selama di Jakarta. Namun saat ini pihaknya masih menunggu donor hati dari para dermawan.

“Entah nanti dananya dari mana, kita akan usahakan semaksimal mungkin. Yang jelas kita menunggu adanya pendonor dulu,” tutur Natsir.

Menurutnya, Pemerintah Kabupaten Demak sudah menyiapkan tempat khusus di Rumah Sakit Sunan Kalijaga, sebelum Yuda mendapatkan donor hati dan dirujuk ke Jakarta untuk transplantasi hati. Namun Yuda tidak bersedia dan memilih beristirahat di rumah.

“Anaknya tidak mau di rumah sakit, katanya sudah bosan. Ya, dirawat di rumah saja, nanti kita minta dokter Puskesmas untuk rutin memeriksa kondisi kesehatannya,” pungkasnya.

 

 

 

 

 

SUMBER

Written by 

Related posts

Leave a Comment