Search

Usir ISIS dari Raqqa, Kurdi Hadapi Proses Perdamaian Yang Rumit

BabeBola.net – Kelompok Kurdi yang memenangkan pertempuran melawan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) di Raqqa harus mengelola proses perdamaian rumit. Kurdi harus menghindari ketegangan etnik di kota mayoritas Arab itu dan mengamankan bantuan dari Amerika Serikat (AS).

Pasukan Demokratik Suriah (SDF) yang didominasi Kurdi berhasil mengalahkan ISIS di Raqqa pada Selasa (17/10/2017) lalu. Kini SDF memiliki tugas besar membangun kembali kota yang kini hanya puing setelah beberapa bulan pertempuran dan serangan udara oleh koalisi pimpinan AS. ISIS pada 2014 mendeklarasikan Raqqa sebagai salah satu ibu kotanya. Kini lepasnya Raqqa dari kendali ISIS menjadi simbol hancurnya kekuatan kelompok militan tersebut.

ISIS juga mengalami banyak kekalahan di Suriah bagian timur seiring berbagai kemenangan pasukan Presiden Suriah Bashar al-Assad yang didukung pasukan Iran dan Rusia. Raqqa merupakan kota dengan tingkat sensitivitas etnik dan suku yang tinggi. SDF harus menempatkan etnik Arab dalam rencana mereka untuk pemerintahan lokal dan kebijakan pasca-ISIS. Dalam waktu dekat, Dewan Sipil Raqqa (RCC) yang dibentuk dalam pengawasan SDF harus mampu menyediakan keamanan, memperbaiki infrastruktur, dan suplai bantuan untuk mendapat dukungan dari warga yang sudah bosan dengan konflik.

Dengan berbagai langkah itu, warga Raqqa yang mengungsi pun dapat kembali ke kota tersebut. Dalam jangka panjang, kondisi politik Raqqa terkait dengan situasi perang yang telah memecah Suriah menjadi berbagai wilayah selama enam tahun terakhir, termasuk bagian utara yang dikontrol milisi Kurdi YPG yang memimpin SDF. Selain itu, Pemerintah Suriah ingin kembali mengontrol kota ini di Sungai Efrat sehingga wilayah itu bisa menjadi arena konflik baru dengan Damaskus. Kota itu juga dapat menjadi daya tawar dalam negosiasi tentang kemungkinan otonomi Kurdi.

“Siapa pun yang memimpin kami, Kurdi atau Arab, kami ingin mereka melayani kami,” ungkap seorang pria dari Raqqa yang berbicara di luar kantor pusat RCC di Ain Issa, utara kota tersebut.

Dia menambahkan, “Keamanan dan keselamatan menjadi hal paling penting.” Raqqa bukan menjadi target YPG di awal perang, tapi secara bertahap menjadi salah satu wilayah yang diincarnya saat milisi itu semakin kuat sebagai mitra utama pasukan koalisi AS. Koalisi AS menyatakan, para pejuang yang bertempur dengan bendera SDF menjadi bagian dalam operasi pembebasan Raqqa dari ISIS.

Meski demikian, para komandan dan pejuang Kurdi yang lebih terorganisasi, YPG menjadi pemimpin dalam empat bulan operasi bersenjata. Partai utama Kurdi di Suriah, PYD, dan aliansinya mungkin berharap Raqqa akan bergabung dalam sistem federal baru wilayah-wilayah otonom yang mereka dirikan di kawasan utara Suriah. Meski demikian, para pemimpin Kurdi menyatakan masih terlalu dini untuk membahas masalah itu sekarang karena proyek politik itu sensitif dan ditolak oleh aliansi AS dan negara tetangga Turki.

Meski Kurdi Suriah menyatakan tetap ingin menjadi bagian Suriah, muncul kekhawatiran tentang separatisme Kurdi setelah Kurdi Irak memilih merdeka hingga memicu aksi militer oleh Irak dan langkah keras dari Turki dan Iran. Turki menganggap bangkitnya kekuatan Kurdi Suriah di perbatasan sebagai ancaman bagi keamanannya. Apalagi Turki juga gagal menekan Washington agar melepas aliansi dengan YPG.

SUMBER : INTERNATIONAL NEWS

Written by 

Related posts

Leave a Comment