Search

PASUKAN UNGU

Para Pemberani yang Bekerja dengan Hati

BabeBola.net – JAKARTA, Anak jalanan, pengemis, hingga orang dengan masalah kejiwaan (ODMK) merupakan fenomena yang sering ditemui di kota besar seperti Jakarta.

Berbagai upaya dilakukan Pemprov DKI Jakarta untuk mengatasi masalah di masyarakat tersebut. Salah satunya dengan membentuk petugas pelayanan pengawasan dan pengendalian sosial (P3S) atau yang disebut juga sebagai “pasukan ungu” yang berasal dari Dinas Sosial DKI Jakarta.

Komandan Regu Tim Reaksi Cepat P3S Sudin Sosial Jakarta Selatan, Sutiko Rino menceritakan pengalamannya berkiprah selama 6 tahun menjadi pasukan ungu.

Pria yang akrab disapa Tikno ini mengatakan, ketika tahun 2011 dibentuk, petugas P3S masih berstatus relawan. Mereka ditugasi untuk melakukan penjangkauan terhadap pengemis, anak jalanan, hingga ODMK yang berkeliaran di jalanan Ibu Kota.

Di Jakarta Selatan, ada 100 petugas P3S. Para pasukan ungu itu akan beraksi antara pukul 07.00-15.00 WIB atau untuk “shift” dua pada pukul 15.00-23.00 WIB.

Meski terlihat pekerjaan ini seperti memerlukan tindakan represif, nyatanya setiap penjangkauan yang dilakukan selalu menggunakan tindakan persuasif.

Tikno mengatakan, setiap anak jalan dan pengemis terlebih dahulu diberikan peringatan untuk tidak kembali ke jalan. Namun, jika terus berulang, para petugas tak segan untuk melakukan penjangkauan kepada mereka.

Seluruh PMKS yang terjangkau akan dibawa ke panti sosial untuk dilakukan pembinaan.

“Kami melakukan secara edukasi, persuasif untuk memberi masukan dan arahan kepada teman-teman PMKS agar tidak melakukan kegiatan di jalanan. Kalau masih bandel juga akhirnya tim reaksi cepat, mereka akan menjangkau,” ujar Tikno.

Pengalaman Berharga

Enam tahun bekerja sebagai pasukan ungu membuat Tikno cukup kaya akan pengalaman. Cara-cara persuasif yang didapatkannya dari pengalaman menjadi bekal untuk melakukan pekerjaan menantang tersebut.

Tikno mengatakan, sempat menemui ODMK yang membawa senjata tajam. Untuk situasi ini, ia mengatakan perlu dilakukan pendekatan ekstra.

“Kami kasih rokok, terus ngasih api, nyalain, senjatanya kami ambil,” ujar Tikno.

Pernah dikeroyok sekelompok pengemis jalanan juga menjadi pengalaman yang paling berharga untuk Tikno dan rekan-rekannya.

Pada 2013, bersama rekan P3S lainnya, Tikno menjangkau seorang pengemis jalanan. Tidak ada perlawanan saat penjangkauan itu. Pengemis itu dibawa ke panti dengan aman.

Namun, saat Tikno dan rekan-rekannya hendak pulang, tiba-tiba ada sekelompok warga yang mencegat mereka. Ternyata, warga yang menghalangi merupakan anak buah dari pengemis yang dijangkau oleh Tikno. Pengemis tersebut ternyata pimpinan pengemis jalanan.

Sempat terjadi baku hantam antara para petugas dan anak buah sang pengemis. Rekan Tikno sempat dilarikan ke rumah sakit karena mengalami luka-luka.

Banyak kejadian lain juga menjadi pengalaman yang lekat di ingatan Tikno. Ketika itu, Tikno menjangkau seorang pengemis yang kondisi sudah lanjut usia. Tanpa sebab, tiba-tiba sang pengemis pingsan.

Tikno melarikan pengemis itu ke rumah sakit. Namun, pengemis itu meninggal dengan diagnosa terserang penyakit jantung. Dari situ Tikno belajar untuk lebih mengandalkan tindakan persuasif kepada setiap PMKS yang hendak mereka jangkau.

Selama 6 tahun bekerja, Tikno merasa sikap humanis, jujur, dan berani merupakan sikap yang harus dimiliki oleh seorang pasukan ungu.

Tikno bangga menjadi pasukan ungu. Ia merasa dengan pekerjaan ini bisa membantu masyarakat. Anak-anak yang tidak memiliki masa depan di jalanan, dibawa ke panti sosial dan diberikan pendidikan yang layak.

“Kami bangga membantu mereka di jalanan. Supaya anak-anak menemukan masa depan,” ujar Tikno.

Terlepas dari dedikasi Tikno untuk pekerjaannya, ia menyimpan sejumlah harapan kepada Pemprov DKI.

Tikno dan rekannya berharap paling tidak mendapatkan tambahan pendapatan, meski saat ini tetap bersyukur telah diberikan gaji sesuai UMP.

“Alhamdulillah Pemda DKI 2016 sudah bikin kami lebih dihargai. Kami sudah dapat UMP. Dulu masih relawan. Harapannya sekarang UMP ya, berharapnya lebih ada lagi kebijakan tambahan yang lain karena ada risiko di lapangan,” ujar Tikno.

Sumber : kompas

Written by 

Related posts

Leave a Comment